Telat 20 tahun lebih, akhirnya saya nonton The Passion besutan Gibson

Apakah film lama ini perlu ditonton dalam masa Paskah? Beda orang beda alasan.

▒ Lama baca 2 menit

Opini tentang film The Passion of the Christ — Blogombal.com

Karena ada pemberitahuan dari Netflix, bahwa The Passion of the Christ akan diturunkan medio April ini, maka saya pun tergoda menontonnya; saya cicil dalam dua hari, pada Kamis Putih malam dan Jumat Agung malam kemarin.

Dua dasawarsa saya tak berminat menonton film 2004 ini karena dulu banyak berita menyebut isinya brutal. Dalam wawancara dengan Time dulu, sutradara Mel Gibson, yang keluar duit untuk film itu, bilang ingin mengangkat tafsir pribadinya atas nama iman tentang penderitaan Yesus, secara autentik, demi menebus dosa manusia, bukan dalam kelaziman langgam Hollywood.

Saya sudah menyiapkan diri untuk kuat menonton The Passion. Nyatanya saya sering memencet tombol lompat 10 detik pada layar tablet. Adegan kekerasan dikemas sangat banal, tak menyisakan imajinasi. Saya tak tahan. Semuanya eksplisit. Pemakuan tangan pun dengan close-up.

Bahkan misalnya pun itu bukan film tentang Yesus, artinya hanya rekaan visual untuk film cerita apa pun, saya tetap tak tega. Bukankah ada estetika untuk menjinakkan pemaparan hasrat gelap manusia?

Sembari menonton film ini, saya membatin apakah tuturan biblikal dan beraneka teks rekonstruktif yang merujuknya, termasuk yang diceritakan guru sekolah Minggu maupun prosesi drama Via Dolorosa setiap menjelang Paskah, tidak cukup?

Karena Gibson ingin mengemas autentisitas, maka hanya ada bahasa Aram untuk mewakili keseharian Yesus dan masyarakat Yahudi saat itu, bahasa Ibrani untuk mewakili tuturan para imam, dan bahasa Latin untuk mewakili ucapan pejabat dan tentara Romawi.

Gibson pernah bilang mulanya tak ingin menyertakan subtitel agar penonton berfokus pada paparan visual. Saya bisa memahami niat itu, karena untuk mereka yang memahami ikhtisar kisah menjelang hingga akhir penyaliban, subtitel tak diperlukan.

Usai menonton film ini saya malah merenungkan hal lain. Kekerasan takkan berhenti meskipun perjalanan adab umat manusia terus berjalan ribuan tahun.

Melihat sadisme prajurit Romawi menyiksa Yesus, dalam arti pelaku sangat menikmati tindakannya, saya teringat kerumunan orang menghajar maling. Orang yang tak dirugikan langsung oleh pencuri pun dapat sangat bengis menyiksa korban yang tak berdaya. Bahkan pelintas jalan pun bisa turun dari motornya untuk ikut menganiaya.

Demikian pula dalam kekerasan lain yang dilakukan berkelompok, bukan perkelahian membela diri secara perorangan, seperti yang dilakukan Amaq Santi di Madura, Jatim, saat menghadapi dua begal, sehingga menewaskan lawan, dalam perjalanan dini hari.

Akan tetapi untuk satu lawan satu gladiator era sirkus Romawi saya tak pernah berminat menonton. Sandiwara gulat Amrik pun, macam MWE, saya tak suka — apalagi WMA. Meskipun Taufiq Ismail menentang olahraga tinju, saya masih dapat menenggang laga itu.

Kekerasan tak imbang terekam dalam pelbagai berita sejak dulu. Termasuk personel militer menyiksa atasan Marsinah demi beroleh pengakuan paksa. Begitu pun fragmen kelam Indonesia 1965–1966 oleh sesama sipil yang dibiarkan oleh negara.

Kembali ke film ini. Semuanya diumbar. Tentang penyiksaan. Babak demi babak. Karena isinya memang bukan perihal kisah mesianistik, sehingga tak perlu ada perbantahan, penyangkalan, maupun kegundahan verbal seorang Mesias dengan lingkungannya maupun dengan dirinya sendiri. Film opera rock Jesus Christ Superstar (Norman Jewison, 1973; bertolak dari drama musikal karya Andrew Lloyd Weber dan Tim Rice) dapat melakukannya.

Dalam The Passion, kegundahan tampil melalui kemasan visual nan simbolis di Getsemani sebelum Yesus ditangkap, dan di kayu salib secara verbal saat Yesus dalam pelukan sakaratulmaut, “Allahku, ya Allahku, mengapa Kau tinggalkan aku?”

Lalu, apakah The Passion itu perlu? Bagi yang tega mungkin tak enak ditonton namun perlu. Bagi yang tidak ingin menontonnya tak perlu merasa rugi.

Selamat Paskah.

Tinggalkan Balasan