Toko edisi terbatas dekat pasar

Ada kalanya orang enggan dikembari dalam berbusana, namun dalam urusan tertentu senang berseragam.

▒ Lama baca < 1 menit

The limited store Jatiasih, Kobek, Jabar — Blogombal.com

Sugesti apa yang Anda tangkap jika sebuah toko menyatakan jualannya adalah limited edition? Kalau menyangkut busana, mungkin Anda akan menerka produk di toko tersebut tak ada di toko lain, bahkan yang ada di toko itu sangat terbatas, hanya ada satu untuk setiap ukuran dan model.

Toko ini berlokasi dekat Pasar Jatiasih, Kobek, Jabar. Apa saja isinya saya tak membuktikan karena saya tidak masuk ke situ. Saya memperhatikan nama toko pada spanduk saat bergerak keluar dari parkiran.

Mungkin sebagian dari Anda termasuk penyuka edisi terbatas. Kalau menyangkut pakaian, edisi terbatas berarti sedikit peluangnya untuk dikembari orang lain. Benarkah demikian?

The limited store Jatiasih, Kobek, Jabar — Blogombal.com

Tergantung apa pakaiannya. Sebelum Mulyono jadi presiden, saya punya sekian kemeja putih untuk saya jodohkan dengan jin dan pantalon khaki. Hal sama berlaku untuk hem denim, sehingga saya seperti tak pernah berganti busana. Tinggal ambil dari lemari. Seorang remaja di gereja, belasan tahun lalu, menyebut saya seperti tak punya baju lain.

Bagi saya, dikembari oleh siapa pun bukan soal. Likuran tahun silam saya pernah beli tiga helai baju kotak-kotak murah dari RRT di Jakarta Kota. Satu untuk saya, selebihnya untuk dua OB.

Apakah ketiga orang itu pernah berbaju kembar pada suatu hari? Saya tak ingat, tepatnya tak peduli. Di kantor sebelum yang terakhir, saya pernah punya kaus seragam yang desainnya diminta oleh para OB dan sopir. Pada punggung kaus hitam ada tulisan “crew” dan nama pemakai. Saya bagian dari mereka. Saya bangga.

Itulah manusia dalam berbusana. Secara umum tak ingin dikembari orang lain. Namun dalam urusan tertentu senang berseragam karena menumbuhkan solidaritas korps. Misalnya untuk kantor pada hari tertentu, demikian pula untuk olahraga bersama, bahkan saat berwisata bersama.

Selain itu ada juga alasan lain: supaya mudah dikenali kalau pergi bersama ke tempat ramai, dari celana panjang hingga jilbab pun sewarna, padahal dalam foto bersama menjadi sulit diidentifikasi.

7 Comments

warm Senin 6 April 2026 ~ 21.48 Reply

saya malah cuma punya satu kemeja putih, jd ingin beli lagi setelah baca postingan ini hehe

Pemilik Blog Rabu 8 April 2026 ~ 08.25 Reply

Tapi kekurangan baju putih, apalagi orang yang mudah gerah seperti saya, cepat kotor. Jejak keringat juga bisa kuning kalau tak segara dicuci, pakai pemutih pula

Junianto Sabtu 4 April 2026 ~ 09.13 Reply

Lalu, setelah Mulyono jadi presiden?

Pemilik Blog Sabtu 4 April 2026 ~ 09.48 Reply

Baju putih tinggal dikit, antara lain karena bolong kena bara cengkih 🙈, dan ada juga tepercik apa yang gak bisa hilang. Baju denim juga tinggal dikit.

Junianto Sabtu 4 April 2026 ~ 13.20 Reply

Baju saya sekarang hanya lima atau enam, termasuk satu denim dan satu batik lengan panjang, sehingga kalau jagong manten pakainya ya itu-itu saja (BTW saya jarang banget jagong manten pakai baju batik).

Jin ada tiga (semuanya berusia di atas lima tahun) dipakai bergantian, plus satu celana bahan yang sangat jarang dipakai/jagong manten saya pakai jin.

Pemilik Blog Sabtu 4 April 2026 ~ 18.25 Reply

Pakaian ndak perlu banyak, yang penting resik 😇

Junianto Sabtu 4 April 2026 ~ 20.52

Kaus saya yang buanyak, dan resik, tapi sebagian besar hanya layak dipakai tidur 😁atau cuma dikenakan di rumah.

Tinggalkan Balasan