Gelang jam dengan karet gelang

Cara darurat orang kesrakat hanya bagus untuk orang tajir. Kalau dilakukan orang tanggung bikin bingung.

▒ Lama baca < 1 menit

Cara mengatasi tali jam karet putus — Blogombal.com

Seseorang bertanya mengapa ada karet gelang pada tali jam saya. Tanpa saya jelaskan pun mestinya dia paham karena gelang jam saya putus. Juga mestinya persoalan selesai kalau saja tak ada susulan tanya mengapa tak diganti dan seterusnya.

Tali jam atau gelang arloji yang saya sukai adalah yang berbahan karet. Setelah itu baru yang berbahan kulit, asli maupun imitasi. Kalau berbahan metal saya kurang suka karena terasa berat dan bikin lecet kulit. Memang sih tali karet hanya cocok untuk arloji bergaya sporty. Dengan tali kanvas juga bisa namun tak mudah kering kalau terkena air.

Tali jam atau gelang jam sih? Terserah. Sesuka kita. Ada yang bilang watch band dan watch strap. Ada pula watch bracelet, namun yang ini lebih ke bahan metal. Watch band lebih ke bahan karet dan silikon.

Cara mengatasi tali jam karet putus — Blogombal.com

Lalu saya kenapa belum beli tali jam baru? Belum sempat cari yang murah, lebih murah dari harga arloji yang di bawah Rp100.000. Ada sih saban pagi ada penjaja keliling tali jam dan baterai jam, tetapi talinya getas. “Apa nggak malu pake jam dikaretin?” tanya seseorang tadi. Ya agak malu, jawab saya.

“Tapi anaknya yang punya Djarum, yang ditaruh di BCA itu, pake sepatu dilakban nggak malu,” saya berkilah.

Dia menanggapi, “Itu darurat, cuma sebentar, buat di-upload di medsos. Lagian dia emang tajir, malah dianggap nyentrik, kayak sumaker: sugih macak kéré. Kalo situ, maaf lho, beda.”

Sumaker itu istilah jadul, dari masa E.F. Schumacher (1911–1977) banyak dirujuk karena bukunya, Small is Beautiful: A Study of Economics As If People Mattered. Dia antara lain mengkritik organisasi berskala besar dalam tata kelola pemerintahan yang tambun sehingga kurang efektif. Entah bagaimana kalau dia masih hidup melihat Endonesah saat ini.

Juga entah bagaimana jika Northcote Parkinson (1909–1993) masih hidup. Kaidah satiris manajemennya pada abad lalu, Parkinson’s Law, beranakkan aneka tulisan oleh orang lain untuk komedi manajemen. Misalnya pertumbuhan organisasi dalam birokrasi lebih laju daripada pertumbuhan kerja nyata dalam organisasi.

Ada kecenderungan birokrasi untuk mengada-adakan pekerjaan supaya bisa menambah orang dengan biaya negara. Skalabilitas hanya dilihat dari pertumbuhan jumlah pekerja dan alat. Seorang bos bangga jika mengendalikan organisasi gembrot.

Lalu hubungan Schumacher dan Parkinson dengan tali jam saya? Nggak ada. Ini menang penyakit saya: senang ngelantur. Dari satu titik, tulisan melenceng ke mana-mana. Mengalir begitu saja dalam ponsel. Terima kasih Anda sudi membacanya. Lalu getun. Dan nanti ada kemungkinan terulang. Tabik.

Arloji jam tangan murah meriah untuk iseng — Blogombal.com

Tinggalkan Balasan