
Ada yang menarik pada tembok rumah di tikungan gang sempit yang hanya cukup untuk sepeda motor berpapasan. Apa? Meteran gas pipa atau jargas (jaringan gas rumah tangga). Banyak info menyebutkan jargas atau PNG (piped natural gas) lebih murah dan lebih aman daripada LPG (liquified petroleum gas).
Setahu saya pada awal pandemi, pemasangan jargas sudah berlangsung di kecamatan saya, hingga ke perkampungan, lalu terhenti. Meteran yang saya lihat berada di sebuah kampung di Jatiwarna, Pondokmelati, Bekasi.

Di kompleks saya, berbeda kelurahan, jaringan pipa gas belum masuk. Kalah sigap dari kabel internet karena tak perlu menggali jalan. Kabarnya Kobek akan memperluas jargas pada 2026. Mestinya BUMD Sinergi Patriot Bekasi (Perseroda) menjelaskan hal itu.
LPG, dilafalkan elpiji, lalu menjadi jenama dagang dari Pertamina, yakni Elpiji, sejak awal 1970-an. KBBI menuliskannya sebagai kata, yakni elpiji, dengan huruf kecil (kapitil, istilah internal Badan Bahasa, artinya bukan huruf kapital, namun dianggap agak cabul).

Sedangkan PNG adalah dari PGN. Nama kompeni ini mulanya adalah Perusahaan Gas Negara, kemudian mulai 2022, diumumkan pada Desember 2021, menjadi Pertamina Gas Negara. Memang bikin bingung, PGN menjual PNG namun bukan Papua Nugini.
Menurut siaran pers BPH Migas (20/10/2020), saat mengumumkan tarif jargas untuk lima kota/kabupaten , untuk RT-1(rumah tangga kecil, hanya untuk memasak harian keluarga kecil ) dan PK-1 (pelanggan kecil, bisnis mikro), adalah Rp4.250/m³, lebih murah daripada harga pasar LPG 3 kg (rata-rata Rp6.065/m³). Sedangkan untuk RT-2 dan PK-2 adalah Rp6.000, lebih murah daripada LPG 12 kg (rata-rata Rp8.715/m³). Saya belum beroleh perbandingan tarif 2026.
Dari tarif tadi, untuk bikin pesmol bagi keluarga kecil, dan pentol — jajanan mirip bakso namun bersedikit daging, lebih dominan kanjinya — bagi pelaku UMKM, jelas lebih murah jargas, tinggal gas puolllll… tak perlu panik saat isi tabung melon habis.
Perbandingan Elpiji vs PNG
|
Gas |
Elpiji (Liquefied Petroleum Gas) |
PNG (Piped Natural Gas / Gas Alam Pipa) |
|
Distribusi |
Dalam bentuk cair di dalam tabung (3kg, 12kg, dll.). |
Disalurkan langsung ke rumah melalui jaringan pipa. |
|
Keterse-diaan |
Sangat luas, tersedia di warung, mini-market, agen di hampir semua wilayah. |
Terbatas di kota besar/kawasan yang sudah terhubung pipa. |
|
Kenya-manan |
Harus ganti tabung saat habis, perlu stok cadangan. |
Praktis, tidak perlu ganti tabung, tagihan bulanan stabil. |
|
Keamanan |
Lebih berat dari udara (mudah mengum-pul di bawah), potensi risiko lebih tinggi saat bocor. |
Lebih ringan dari udara (mudah mengurai ke atas), aman ditutup keran, lebih aman jika bocor. |
|
Biaya |
Harga per volume cenderung lebih tinggi (terutama non-subsidi). |
Umumnya lebih murah (20-25%) dari LPG, tagihan stabil. |
|
Komposisi |
Campuran Propana & Butana (kalori tinggi). |
Gas Alam (terutama Metana, kalori lebih rendah). |
|
Lingkungan |
Bahan bakar fosil, emisi lebih tinggi. |
Lebih bersih dan ramah lingkungan (emisi karbon lebih rendah). |
—
¬ Tabel di atas adalah hasil ekstraksi oleh akal imitasi terhadap konten eBelanja.id (24/10/2025)

2 Comments
Diberitakan bahwa Jepang berhasil mengemas gas alam menjadi butiran, dan sudah datang bertemu BRIN. Konon sih lebih aman. Tinggal pemerintah RI mau atau tidak, kontrak dgn pihak Jepang.
Buat saya LPG belakangan makin bikin parno, Bang Paman. Banyak kejadian tabung meledak karena kebocoran, nyawa taruhannya 😵
Semoga kerja sama itu terwujud dan berhasil.
LPG lebih berat dari udara, kalo bocor mengenang di bawah, rawan terhadap percikan api. Konon begitu. Gas alam kalo bocor langsung ke atas, nyampur dengan udara.