Monitor bursa saham dan motor melintas

Foto monitor BEI di pinggir jalan, sejauh saya tahu, jarang menjadi ilustrasi aktual berita ekbis. Kenapa?

▒ Lama baca 2 menit

Monitor bursa efek indonesia dan sepeda motor — Blogombal.com

Foto di halaman dalam, halaman 15 Kompas hari ini (Kamis, 29/1/2026), bagi saya menarik. Dalam foto tampak monitor Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan latar depan blur sepeda motor sedang melintas. Foto tersebut menjadi ilustrasi berita sambungan dari halaman 1, “Investor Ingin Pasar Modal Lebih Sehat”.

Kapsi foto ilustrasi berita, bukan foto berita tunggal, karya Totok Wijayanto, menuturkan:

Layar monitor memperlihatkan perdagangan saham yang kembali dibuka setelah PT Bursa Efek Indonesia melakukan penghentian sementara perdagangan (trading halt) pada pukul 13.43 waktu Jakarta Automated Trading System, Rabu (28/1/2026). Penghentian selama 30 menit itu dilakukan karena Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun 8 persen. IHSG ditutup di level 8.320,56, melemah 7,36 persen atau 659,67 poin dari perdagangan sebelumnya.

Selama ini gaya lumrah foto ilustrasi berita korporasi, terutama perusahaan publik, adalah foto logo di gedung kantor perusahaan yang tampak dari jalan, termasuk foto logo pada dinding menara kaca. Ada juga foto produk sedang dipakai manusia, misalnya ponsel atau malah aplikasi milik perusahaan yang diberitakan.

Adapun foto seputar kegiatan di bursa efek adalah monitor dengan latar depan orang lewat. Foto lama dahulu menampilkan aktivitas para pialang di lantai bursa. Foto lebih jadul sebelum layar elektronik besar menjadi kelaziman teknologis, dan internet ponsel belum ada, menampilkan seorang floor trader sedang memantau harga saham dengan teropong.

Teropong pialang saham zaman dahulu - Tempo — Blogombal.com
Arsip majalah Tempo 1991, trader menggunakan teropong di BEJ (kini BEI). Foto ini berbayar, versi ukuran asli Rp500.000. Hal lazim dalam adab ekosistem bisnis media, foto mencakup hak cipta dan manfaat ekonomi pemilik hak cipta.

Apa pun pilihan foto, berupa monitor maupun logo perusahaan di depan gedung, unsur manusia itu penting. Maka umumnya pewarta foto menunggu orang lewat sebelum menekan tombol rana.

Hal serupa berlaku saat memotret toko dan pagar non-permanen proyek properti : harus tampak orang melintas untuk menunjukkan kehidupan. Hal sama dilakukan bloger saat memotret subjek diam di pinggir jalan, setidaknya tampak lampu motor atau mobil bergerak. Untuk itu kadang si narablog kudu menunggu. Menjadi merepotkan jika jeda rana (shutter lag) ponsel panjang karena lamban.

Lalu kembali ke foto Kompas tersebut, inilah catatan saya:

  • Memotret monitor di kaki lima area bursa dengan sepasang pemotor bergerak itu unik, karena seperti membumikan dunia bursa saham, mengingat dunia saham bercita elitis
  • Dari sisi aktualitas, dalam hal ini timeliness warta, memotret subjek bersamaan hari penulisan berita itu lazim, namun dalam perpacuan berita sela (breaking news) di media daring, foto berita aktual untuk ilustrasi terasa mewah dan merepotkan; lebih aman, cepat, dan hemat memakai foto stok, termasuk main embat dari sumber lain
  • Maka jika ada pertanyaan, bukankah setiap jurnalis di lapangan, tak hanya pewarta foto, memiliki ponsel berkamera, apa sulitnya menghasilkan foto, silakan menanya editor foto di media berita daring

Saya pernah mendengar rasa-rasan bahwa kebutuhan foto oleh redaksi media berita daring dan pembacanya itu berbeda dari media cetak yang hampir kiamat.

Mungkin benar. Juga mungkin benar bahwa sebenarnya redaksi media daring juga ingin foto berita yang bagus dengan konteks yang pas, lagi pula aktual, namun terkendala biaya. Singkat kata tak mendongkrak trafik.

Adapun soal apresiasi pembaca, apakah mereka tak butuh foto bagus yang secara legal tak bermasalah, artinya dari sisi hak cipta, Andalah yang menjawab. Kita tahu ada saja media yang memanfaatkan foto Antara Foto dan sumber berbayar tanpa melanggani.

Monitor bursa efek indonesia dan sepeda motor — Blogombal.com

2 Comments

morishige Jumat 30 Januari 2026 ~ 15.44 Reply

Alasan yang pertama masuk akal, Paman. Kemarin waktu lihat konferensi pers soal penghentian perdagangan itu salah seorang pembicaranya bilang bahwa investor emiten-emiten IHSG sekarang kebanyakan dari dalam negeri. Mungkin saja porsi retail lumayan banyak dalam populasinya.

Tinggalkan Balasan