
Apa sih ciri khas orang tua? Bicara masa lalu. Hanya itu yang mereka miliki, dengan catatan kalau masih ingat, belum pikun. Hari ini dan hari esok adalah milik kaum muda.
Di Kaskus ada sebuah infografik dan artikel penyertanya, ditemukan oleh seseorang. Saya tak tahu apakah generasi X dan yang lebih muda masih membuka Kaskus.
Sempat terpikir untuk mengeposkan arsip Kaskus itu September tahun depan, pas sepuluh tahun pengunggahan oleh orang marketing suatu media berita, namun saya urungkan karena saya ragu apakah tahun 2027 saya masih ingat untuk mengeposkan, atau malah apakah tahun depan blog wagu ini dan pemiliknya masih hidup. Maka saya poskan sekarang.

Ada yang bertanya apakah dulu seorang awak media yang melakukan riset bahan, mendesain infografik dan menulis wara (copywriting) dalam desain, hampir setiap hari, termasuk hari libur, menerima gaji untuk untuk sekian pelaku pekerjaan? Hahaha. Lucu.

Kini zaman lebih mudah karena AI. Pekerjaan manual ala artisan di media sudah terpinggirkan. Kalau ada yang menyesalkan hal itu sama saja orang tua getun kenapa pekerjaan kompugrafis mengenyahkan paste-up man dan 3M Scotch Spray Mount.
Bahkan penulisan wara oleh AI pun bisa bagus, termasuk dalam tata bahasa dan ejaaan, tinggal dibesut sedikit. Demikian pula untuk artikel, tinggal disunting sesuai gaya setiap media. Kalau ada orang bernostalgia romantis tentang keindahan tantangan menulis pada masa lampau, pakai saja mesin tik manual dan cairan penghapus. Lalu orang lain memasang sumbat telinga untuk diri sendiri.
Zaman terus bergerak dengan bergegas. Dikenang boleh, diulangi untuk pekerjaan tak usah. Masa hari ini masih mengasi kurir untuk membawa magneto-optic disc Fujitsu berisi artwork untuk proses pracetak?
Saya bersyukur pernah mengalami hal-hal tak enak pada masa lalu, namun juga bersyukur atas kemajuan teknologi digital hari ini yang mempermudah banyak pekerjaan. Bahwa ada pelaku pekerjaan yang terpental, termasuk untuk pekerjaan saya, apa boleh buat.
Semua berlangsung alami sesuai tuntutan dunia kerja. Sebagai pengguna jalan tol pun Anda mungkin lupa kapan terakhir kali melihat petugas loket gerbang tol yang setiap hari menghirup polutan. Hari ini masih ada petugas loket pada pintu keluar parkiran, tetapi apakah akhir 2026 masih ada?
Lalu apa spesialisasi saya sebagai orang yang pernah bekerja di penerbitan? Tidak ada. Saya bukan desainer grafis apalagi fotografer maupun terlebih-lebih pengarah seni. Menulis memang ya, tetapi dalam kolom pekerjaan saya tak pernah menyebut diri penulis.
Riwayat pendidikan formal saya pun mengundang tawa. Tetapi saya merasa itu bukan cela maupun hal yang layak saya banggakan. Bukan aib, bukan prestasi. Biasa saja.
Bahkan menyebut diri bloger pun saya malu, karena yang dapat saya katakan hanya saya punya blog, atau saya ngeblog. Termasuk pada masa lalu tatkala blogging masih menggairahkan.
Tetapi saya pernah bikin kaus yang menyebut he’s a blogger, bukan? Saya tak tahu syaiton kepongahan macam apa yang saat itu merasuki saya. Anggap saja who is he?
Kalau baliho Cak Imin sebelum resmi jadi cawapres, tetapi sudah berikrar sebagai cawapres, belum siapa capresnya, sih enak. Who is he? Jawabannya: “He is kandar.”
Saya sih nobody. Tetapi kalau saya tambahi buntut (but) nobody’s perfect akan bikin orang lain melet.

