
Inilah buah kemajuan teknologi untuk gerobak pengamen: ponsel, kuota internet, SD card, amplifier dan kelengkapannya, dan sepiker. Baterai besar seperti power bank untuk pekerja lapangan, misalnya saat bencana, jenis 1526 Wh, 1.800 W? Terlalu mahal, bisa di atas Rp10 juta. Lebih murah genset portabel bekas.
Saya sebut kemajuan teknologi karena sebelumnya pengamen keliling dengan lagu pengiring siap pakai cuma memanfaatkan stok MP3 dalam kartu memori, head unit protolan, amplifier mini, dan sepiker swakriya ber-woofer 12 inci. Tenaga dari aki dalam gerobak.

Nah, pengamen yang saya lihat di Jalan Pasar Kecapi, Pondokmelati, Kobek, Jabar, ini mengunakan gerobak yang didorong sepeda motor, pada bagian depan gerobak ada genset yang tentu saja bising tetapi bisa ditingkahi sepiker. Untuk sumber musik cukup mengandalkan YouTube, tetapi saat saya amati sepintas sedang tak ada iklan tertayang. Namun saya tak dapat ngobrol karena riuh.
Sayang saat itu sang biduanita sedang di seberang jalan, pada tempat mencuci mobil dan motor, mengedarkan kantong kolekte, tak jelas apakah dia memegang mikrofon, namun dia sedang tak bernyanyi. Hanya musik dari YouTube ponsel yang berdendang.
Jika si penyanyi beraksi jauh dari gerobak berarti dia menggunakan mikrofon nirkabel. Misalnya benar, berarti canggih sekali gerobak pengamen ini. Eh, tetapi sekilas tak terlihat antena penerima.

Dengan rak audio swakriya, gerobaknya menjadi kontroler suara nan berdaya. Saya baru tahu ada perlengkapan keliling one-man kelas rakyat semaju ini. Kalau sound horèg, itu sistem hiburan rakyat kelas mahal. Namun gerobak ini setidaknya lebih canggih daripada pengamen karaoke yang menggunakan perangkat selempang yang hari ini masih lazim.
Rakyat selalu menemukan cara untuk menghibur diri seusai biaya yang terjangkau. Tentu, keterjangkauan itu tak statis karena teknologi digital membuat produk massal akan memurah. Lihat saja mobil angkot.
Mulanya sopir angkot menggunakan kaset untuk “tape mobil”, kemudian ada CD berisi MP3 untuk head unit, lalu ada SD card lagu, kemudian setelah ada Bluetooth maka sopir tinggal menghubungkan ponsel berisi lagu ke audio receiver. Kalau tak sayang pulsa, mungkin sopir angkot memanfaatkan Spotify atau malah Weezer.

