Maka tamatlah Kompas Minggu

Bagi sebagian orang, mau lanjut silakan, mau pamit ya terserah. Pasal nostalgik tak berlaku merata.

▒ Lama baca 2 menit

Kompas Minggu tamat? Peduli amat — Blogombal.com

Iklan selebar empat kolom, setinggi setengah halaman koran, itu ukurannya lebih dari seperempat halaman karena jumlah kolom ada tujuh. Gambar dalam iklan menampilkan hal yang kini terasa jadul: orang sedang membaca koran.

Perabot, interior, dan gaya busana cewek dengan tata cahaya ruang saja yang memberi kesan kekinian. Sampai awal 1990-an jarang media menampilkan foto ilustrasi dengan suasana macam itu. Iklan itu adalah pengumuman penerbit Kompas bahwa mulai Sabtu, 3 Januari 2026, ada Kompas Akhir Pekan, menggantikan Kompas Minggu.

Dengan kata lain, Kompas Minggu edisi cetak terakhir adalah terbitan Ahad 28 Desember 2025. Sekira satu dua bulan lalu Kompas sudah melakukan jajak pendapat pembaca soal penghapusan edisi Minggu.

Mungkin edisi Minggu, yang digarap oleh tim khusus, mboten cucuk, tidak ekonomis, dari sisi biaya produksi. Salah satu sumbangsih terhadap dunia sastra Indonesia edisi Minggu adalah cerpen, yang setiap tahun dilakukan penobatan karya terbaik untuk dibukakan. Tetapi membuat edisi akhir pekan tetap saja butuh sumber daya.

Kompas Minggu tamat? Peduli amat — Blogombal.com

Kompas Minggu (Koming, lalu mengilhami Dwi Koen membuat komik Panji Koming) terbit pertama 19 September 1978, 13 tahun setelah terbit sebagai koran adiknya majalah Intisari.

Sebelum muncul Koming, tahun itu pula, 20 Januari – 6 Februari 1978, Kompas tidak terbit karena dibredel Orde Baru gara-gara memberitakan demonstrasi mahasiswa menolak Soeharto.

Lalu akankah ada yang kehilangan Koming? Ada. Wong lawas generasi baby boomers (1946–1964) dan generasi X (1965–1980) yang masih akrab dengan Kompas. Generasi Y (1981–1996) dan Z (1997–2012), serta yang lebih tua, namun tak akrab dengan koran, ya biasa saja. Terbit silakan, tamat terserah.

Dari Koming saya merasa diperkaya. Saya ingat edisi awal menampilkan Mochtar Lubis, Karlina Supelli, kemudian ada da Goenawan Mohamad, dan sekian tahun ada Norman Edwin sebelum menjadi wartawan Kompas, dengan foto sosok agak kabur.

Saya merasa diperkaya karena saya adalah bagian dari generasi yang lapar informasi, namun ketersediaan bacaan terbatas, sehingga ibaratnya apa pun saya baca. Maklum masa bocah hingga masa muda dewasa saya belum ada internet.

Maka sampai akhir 1990-an saya masih melanggani aneka koran Minggu, padahal sudah ada internet tetapi dial up. Ada pengecer koran yang setiap Minggu mengantarkan sekian koran, termasuk Republika yang desain grafisnya rapi dan bahasanya tertata.

Tentang Media Indonesia Minggu, bagian dari edisi harian yang saya langgani penuh, saya terkesan saat digarap oleh diaspora Tempo pascabredel. Adapun Koran Tempo Minggu, yang bagus, saya peroleh dengan sendirinya karena saya pelanggan versi lengkap. Desain grafis dan isinya saya suka, malah ada sehalaman Kortem yang saya bingkai. Meskipun saya mendapatkan Kompas gratis di kantor, untuk Koming saya dipasok loper karena Ahad libur.

Singkat kata, saya tumbuh bersama media cetak. Bahkan pernah bekerja di media cetak. Namun kini saya tak mampu melanggani koran dan majalah karena mahal. Saya melanggani Kompas cetak sekaligus digital hanya sampai 2022. Jauh hari sebelumnya, Kontan koran dan tabloid serta The Jakarta Post saya hentikan. Majalah asing? Sudah lama banget prei.

Akan tetapi saya masih terkesan oleh tampilan media cetak. Mungkin karena saya lahir terlalu awal. Di sisi lain, seperti lazimnya orang, saya juga menikmati media digital.

Saya bersyukur pernah bekerja di kantor yang perpustakaannya melanggani hampir semua koran Jakarta dan daerah, majalah nasional dan asing, koran asing, termasuk majalah gaya hidup dan fesyen untuk pria maupun wanita.

Kompas Minggu tamat? Peduli amat — Blogombal.com

4 Comments

mpokb Minggu 21 Desember 2025 ~ 20.50 Reply

Yah, sayang sekali. Di masa jayanya, Koming itu pas datang tebal banget karena ada lembaran khusus iklan 😀
Dulu TTS Koming jadi rebutan saya dan kakak, Bang Paman.

Pemilik Blog Minggu 21 Desember 2025 ~ 23.20 Reply

Aha! TTS. Hadiahnya lumayan. Apalagi TTS edisi khusus. Kayaknya cuma Kompas yang bisa. Oh, timpang nian bisnis media. Tapi sejak dulu emang gitu ding.

warm Minggu 21 Desember 2025 ~ 14.57 Reply

Kompas minggu adalah favorit saya, karena selain banyak artikel menarik, kolom komik yang asik, juga Kompas edisi khusus akhir pekan yang isiannya lebih banyak dari hari biasanya (walau jarang bisa mengisinya secara penuh)

Kompas juga terasa makin tipis sekarang, tapi ya gimana lagi, berita sekarang lebih padet via internet dibanding versi cetak..

farewell..

Pemilik Blog Minggu 21 Desember 2025 ~ 23.18 Reply

Yah, apa boleh buat

Tinggalkan Balasan