
Reklame kecil di sudut kanan bawah koran Kompas (Rabu, 12/11/2025) itu menggoda mata saya karena ada teks dalam aksara Jawa. Sebenarnya wajar sih karena merupakan pengumuman dari Pemprov DIY. Bukankah kop surat dinas DIY juga menerakan hanacaraka? Di Jogja, artinya bukan hanya Kota Yogyakarta, papan nama jalan juga disertai aksara hanacaraka.
Maka saya bertanya, dari seratus orang Jawa di Jogja berapa orang yang lancar membaca aksara Jawa? Apa pun jawabannya, wajar jika DIY yang di dalamnya ada Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat, masih mempertahankan aksara Jawa.

Di Kota Surakarta, nama resmi Sala eh Solo, papan nama jalan juga dalam dua aksara, yakni Latin dan Jawa. Tak hanya di kedua kota tersebut, karena di hampir semua kota di Jateng juga menerapkan gaya yang sama.
Di Jabar, papan nama jalan pun dalam aksara Latin dan Sunda. Tetapi saya malah tak yakin bagaimana di Kobek (Kota Bekasi), terutama tengah kota, seingat saya sih cuma berupa nama jalan dalam aksara Latin lalu di bawahnya adalah kode pos, padahal di wilayah Jabar. Kalau di Bogor dalam dua ragam aksara.
Lalu apa bunyi teks dalam iklan di Kompas itu? Karena saya tak lancar baca tulis hanacaraka, saya mencoba menggunakan layanan AI gratisan untuk mencocokkan namun tak membuahkan hasil.
Padahal aplikasi penerjemah bahasa dan aksara berbasis kamera dalam ponsel amat berguna, bisa membaca aksara Kanji, Mandarin, Hangeul, Devanagari, Akson Thai, Quốc Ngữ, hingga Sirilik, dan mestinya Jawa, Sunda, Bali, serta Batak saat kita bepergian maupun bersua dokumen.
Lalu saya coba beberapa layanan daring OCR (optical character recognition) aksara Jawa dengan mengunggah gambar, termasuk di laman Salin Saja milik Dinas Kebudayaan DIY namun macet. Karena gagal, saya memanfaatkan opsi konversi aksara Latin ke Jawa. Ini hasilnya:
ꦧꦣꦤ꧀—ꦥꦼꦔꦼꦭꦺꦴꦭ—ꦏꦼꦈꦮꦔꦤ꧀—ꦣꦤ꧀—ꦄꦱꦺꦠ꧀

Ya, hasilnya sama dengan gambar. Kenapa saya memasukkan tanda em dash, yakni tanda minus panjang? Untuk memisahkan kata demi kata. Teks aksara Jawa versi Pemprov DIY seolah tanpa spasi.
Kalau saya menanya Google Lens, jawabannya ngaco. Coba lihat: gambar teks beraksara Jawa itu menurutnya adalah sluman slumun slamet. Oh, AI kenthir nggladrah! Dia asal-asalan merujuk ke sebuah gambar di Facebook.

Perihal proyek hotel yang ditenderkan, dengan penutup “dikeluarkan di Yogyakarta…”, yakni eks Mutiara 2, itu merupakan kelanjutan pembelian oleh Pemprov DIY pada 2020, memanfaatkan Dana Keistimewaan, seharga Rp170 miliar, untuk area UMKM (Kompas, 21/10/2020).

Hotel Mutiara terdiri atas dua gedung, dan yang menarik bagi saya adalah Mutiara 1, yang berdiri sejak 1972, sedangkan Mutiara 2 sejak 1981. Mutiara 1 bagi saya menarik karena jendela kamar yang menghadap ke jalan berada pada dinding yang condong ke depan.
Saya belum pernah masuk ke kamar di sana, namun dulu selalu membayangkan orang yang membuka jendela bisa terjungkal. Yah, maaf saja, ini pikiran kamso. Selalu itu yang saya pikirkan dulu, 1980-an, saat lesehan di Panca Rasa, seberang hotel.

