Ijazah Sahroni dan ketololan tak ada hubungannya

Nilai 6 di ijazah bukan penentu karier, capaian bisnis, maupun cara seseorang berbicara.

▒ Lama baca 2 menit

Publik mengolok-olok ijazah Ahmad Sahroni — Blogombal.com

Sejujurnya, meski prihatin mengikuti kabar di media sosial, bagaimana massa menjarah rumah Ahmad Sahroni di Jakut, ada tiga hal yang membuat saya tersenyum.

Pertama: seorang nenek menentang foto keluarga Sahroni. Apakah dia membutuhkan bingkai besar bagus itu?

Kedua: seorang cowok buka baju dan nyebur kolam. Saya mengandaikan jika dia tak ikut menjarah berarti mendingan, cuma ingin merasakan kolam pribadi orang kaya, sonder minta izin.

Ketiga: ijazah SMA SMP Sahroni, dengan tulisan kabur, yang menunjukkan nilainya enam semua, hanya satu yang diberi ponten tujuh. Warganet mengontraskan capaian akademis Sahroni dengan ketololan yang dia alamatkan kepada rakyat disertai pesan, “Catat!”

Barusan saya lihat cuitan di X yang memperolok ijazah itu. Maka saya pun merenung. Sebenarnya itu termasuk data pribadi, orang lain tak berhak memublikasikan. Namun karena suasana batin khalayak sedang sebal terhadap Sahroni maka hal itu ditenggang. Maafkan, blog ini ikut memublikasikan gambar olahan tanpa menyensor.

Lamunan saya akhirnya zig-zag. Kalau saya sederhanakan, inilah intinya: prestasi akademis tak ada hubungannya capaian kesejahteraan terutama finansial maupun capaian lain yang bersifat reputatif. Itu cerita klasik.

Teman saya SMA yang biasa saja akhirnya jadi pengusaha. Teman lain, yang semasa SMA biasa saja, tak pernah mendebat guru, namun saat berkuliah dia menjadi tanaman dengan pot yang tepat. Semua potensi dirinya tergali dan tumbuh, apalagi dengan bimbingan sejumlah cendekiawan misuwur di universitas swasta itu.

Sepulang lulus doktor ekonomi dari Amerika dia menjadi peneliti. Akhirnya dia mendirikan sebuah lembaga riset sosial ekonomi yang reputatif di Jakarta namun jarang dikutip media.

Dari teman kuliah, ada seorang teman yang saat mahasiswa bukan jenis sok pemikir suka baca buku berat dan aktif dalam kelompok diskusi, namun akhirnya menjadi pengusaha sejahtera dalam bidang yang ada hubungannya dengan bidang studinya dulu, sering membantu teman yang kesusahan.

Selanjutnya pasti Anda punya contoh lebih banyak. Seorang politikus yang sejak muda pintar, bahkan punya perpustakaan pribadi terbesar di Indonesia, sampai membuat gedung khusus untuk itu di Jakarta, dan membuat museum di luar pulau, karena bisnisnya juga berhasil, belum tentu pokok pikirannya genah.

Alumnus dan alumna maupun alumni dan alumnae dari sekolah bagus, termasuk perguruan tinggi negeri top, belum tentu berprestasi tinggi dalam dunia kerja maupun berbisnis. Banyak faktor pemengaruh, terutama yang menjadi determinan, namun menjadi panjang dan merepotkan saya jika saya tulis di sini.

So? Ucapan Sahroni yang menolol-nololkan rakyat yang dia wakili itu tak ada hubungannya dengan ijazah. Kepribadian dan etiket serta etika seseorang tak dibentuk oleh ijazah. Bagaimana kisah hidup sesungguhnya dari seorang Sahroni, saya belum membaca biografinya.

¬ Hak cipta gambar olahan tidak diketahui

4 Comments

mpokb Minggu 7 September 2025 ~ 01.28 Reply

Kalau sarjana kehutanan tapi sukanya menebangi hutan, itu kenapa, Bang Paman?

Pemilik Blog Minggu 7 September 2025 ~ 07.15 Reply

Mungkin karena spesialisasi dia sejak kuliah adalah teknologi pemanfaatan hasil hutan. Soal sustainability itu bidangnya orang lain, demikian pula biodiversity dalam hutan.

Junianto Sabtu 6 September 2025 ~ 14.05 Reply

BTW ucapan, tindakan dll Joko Widodo, ada kaitannya enggak dengan ijazah UGM dia? Eh ijazahnya UGM asli apa palsu sih?

Pemilik Blog Sabtu 6 September 2025 ~ 16.10 Reply

Nggak ada korelasinya 😅

Tinggalkan Balasan