
Berjalan kaki sendirian itu memberi kesempatan lebih banyak untuk berbicara dengan diri sendiri tanpa bersuara. Saya tadi mulai bergerak saat magrib, menempuh rute yang sudah lama tak saya lalui, menikmati tersesat dan kehilangan orientasi. Padahal dulu, sejak bocah hingga muda dewasa, saya selalu bisa menemukan alamat. Kini saya mudah nyasar.
Kali ini jarak tempuh sore tadi lebih pendek ketimbang Senin lalu. Kalori yang terbakar lebih sedikit, adapun kalori yang hangus itu sebagian karena tersesat.

Banyak hal sudah berubah. Lahan kosong di perkampungan sudah jadi rumah dan kluster perumahan. Jalan yang dulu belang — kadang jalan tanah, lalu seruas ada paving block, dan kemudian jalan beton — kini sudah disemen semua. Padahal jalan belang adalah bagian dari tetenger.
Selama perjalanan saya tak menengok ponsel untuk melihat jarak tempuh, durasi, maupun memastikan lokasi di Google Maps. Aplikasi Fit hanya saya tengok saat mengeset dan setelah tiba di rumah.

Bagi saya, berjalan ya tinggal berjalan saja, tanpa rencana. Istri saya tadi menanya saat saya pamit, akan lewat mana saja. Saya jawab tidak tahu, terserah suara hati dan ajakan kaki.
Dia tahu, itulah salah satu kenikmatan saya: pergi sendirian, memanjakan impuls, tak perlu berkompromi dengan orang lain, dan lebih nikmat jika tak peduli waktu. Akan indah, jika memungkinkan, bahwa untuk memutuskan pulang atau tidak tergantung suara hati, rasa kantuk, dan batas kepenatan. Tetapi ada istri dan anak tidak mungkin, bukan? Hanya bujangan yang bisa begitu.

Saya pernah punya smartwatch, ada kartu SIM-nya, tujuh atau delapan tahun lalu, tetapi saya lupa kenapa bosan, akhirnya barang itu saya berikan cucu tetangga, anak SMP.
Semua data perjalanan hanya menarik setelah selesai. Saya tak tertarik data perjalanan seperti progress report, karena dulu selama bekerja berurusan dengan itu. Untuk urusan pribadi saya kurang suka, apalagi dalam perjalanan. Tak ada yang lebih nikmat selain menoleh kanan kiri sambil melamun.

Lalu perubahan apa yang saya rasakan dari lingkungan sekitar? Semenjak Covid-19 lima tahun silam, kalau sehabis magrib di kompleks maupun kampung makin sepi. Tak ada anak di gang, orang dewasa di depan rumah juga jarang.
Kalau sepeda motor melintas masih ada, mungkin pulang kerja atau akan pergi keluar.

8 Comments
Ya itu hiburan traveling yang paling murah, Kalau dikota besar, blusukan hanya minus aruh2 semanak yg ujug2 mentranformasi isi perut Dan waktu yg terlewati. Pengalaman perjalanan akan ada di memori
Betooollll 😂
Saya masih rutin jalan kaki pagi sendirian sejak 13 Juli 2025 lalu (sejak dua pekan lebih). Rute gang-gang kecil dalam beberapa wilayah kelurahan (sementara ini terbanyak empat kelurahan).
Saya tidak tahu sejauh berapa kilometer tiap kali saya berjalan pagi, tapi rata-rata 45 menit nonstop.
Selalu ditemani musik dari YouTube di ponsel lewat headphones — saya selalu milih konser grup band Barat — tadi pagi Seconds Out Genesis.
👍 Sip, Lik Jun. Lama kelamaan tubuh akan menagih.
Oh, Seconds Out. Pasti ada suara menemani intro, “It’s the time for lunch dum dee dum dee dum”.
Drummer di konser si Chester Thomson
Betoooool!
BTW tadi pagi nyaris satu jam, ditemani film konser Stones
https://www.imdb.com/title/tt0893382/
👍👏💐
“Tak ada anak di gang, orang dewasa di depan rumah juga jarang.” Mereka sedang asyik menonton TV atau mainan ponsel. Jaman saya kecil dulu, terutama saat bulan purnama, saya diperbolehkan main di luar rumah, sampai jam 9 malam.
Dugaan saya karena ponsel. Selain itu faktor keamanan dan keselamatan.