
Di pertigaan itu tiang listrik dari beton sudah bocel. Mungkin pernah disenggol kendaraan berat. Dari riwayat tuturan warga, saya tahu sejak awal tiang listriknya dari beton, dan itu pun listrik masuk menjelang akhir 1980-an setelah kompleks perumahan dihuni. Lalu? Saya pun membatin sejak kapankah Indonesia mengenal tiang listrik dari beton?
Sejak kecil hingga kuliah saya hanya tahu tiang listrik dari kayu dan besi. Kayu? Ya, batang pohon entah apa. Dulu, awal 1970-an, Simbah Kakung di Yogyakarta ketika memasang listrik di empat rumah keluarga harus membayar biaya pembangunan jaringan, antara lain tiang dari kayu.
Ini serupa era pra-seluler: pemasang telepon di daerah yang belum terlayani Telkom harus membayar biaya tiang. Tetapi seperti halnya tiang listrik, pelanggan berikutnya tak membayar biaya tiang yang telah dilunasi warga lain.
Tiang beton saya lihat pertama kali saat belia di Trans-Sumbawa pada 1986, dalam pelancongan ala backpacker (uh, bawa carrier, pinjam pendaki Kapalasastra UGM) merangkap penugasan diri untuk jurnalistik. Tiang-tiang beton itu dicat hijau tua dan hijau pupus.
Nah, berarti sebelum tahun 1986 sudah ada tiang beton. Dari laman Indowork saya beroleh info bahwa tiang beton dipelopori oleh PT Wijaya Karya pada 1979, menyusul panel prefab untuk rumah susun pada 1978. Kini tiang beton sudah biasa, lagi pula lebih kuat.

Di Sleman, DIY, tiang listrik model menara besi dari era ANIEM menjadi cagar budaya. ANIEM itu singkatan untuk N.V. Algemeene Nederlandsch-Indische Electriciteits-Maatschappij, perusahaan listrik yang di Hindia Belanda yang memasok setrum di sebagian Jatim dan Jatim, misalnya Semarang, Salatiga, Yogyakarta, Pasuruan, dan Surabaya. Simbah saya menyebut tiang listrik itu “cagak anim”.

2 Comments
Bahkan bapak saya masih menyebut “cagak anim” untuk tiang listrik di dekat rumah. Saya juga masih ngalami untuk tiang dari batang pohon,, 🙂
Istilah cagak anim sepuluh tahun lagi mungkin tak terdengar. Oh, Njenengan mengalami cagak anim kayu? 👍🙏😇💐