Sejak dulu saya mengagumi pilihan kata untuk jenama kedai ini: tanpa kata depan “di”. Maka ketika sore lalu saya mendapatkan oleh-oleh penganan, saya pun teringat soal bahasa ala si kedai.
Makan apa? Jawaban versi guru bahasa: “Bawah pohon”. Artinya, bawah pohon itu sebangsa rebung atau bagian bawah batang pohon lain entah apa.
Makan di mana? Jawaban dalam bahasa baku: “Di bawah pohon”. Biasanya untuk bahasa tulis. Sedangkan jawaban tuturan lisan keseharian bisa lebih ringkas: “Bawah pohon.”
Penggunaan kata “bawah pohon” itu juga mengingatkan saya kepada kios cukur di Jakarta. Namanya lengkap: Di Bawah Pohon. Padahal urusan cukur mencukur dilakukan dalam bilik beratap nan sejuk. Artinya berbeda dari kedai yang memang memiliki meja makan di tempat terbuka. Ada juga cewek yang memangkaskan rambut cekaknya di sana.
Nama bawah pohon menjadi identitas barber karena dahulu kala banyak tukang cukur yang beroperasi di di bawah pohon. Pelanggan didudukkan di atas kursi lipat, sedangkan cermin digantungkan pada batang pohon.
Jika tiba-tiba hujan deras mungkin rambut kepala baru terpangkas sebagian. Atau berewok baru terbabat separuh. Tetapi jika acara dilanjutkan setelah hujan selesai mungkin dedaunan di atas masih meneteskan air. Maka solusinya adalah kembali melanjutkan esok harinya, semoga Pak Cukur tak kenal tanggal merah karena setiap hari adalah hari kerja.
Repot jika kepala belang dan berewok tak imbang terjadi sebelum bulan puasa dimulai, padahal selama Lebaran Pak Cukur mudik, prei dua minggu.
6 Comments
Waduh saya kurang lapan anem, Paman. Karena sudah puluhan tahun tidak ke sana, dan zaman dahulu ke sana pun tidak sering. Yang pasti tahu ya kakak Blontank karena beliau dahulu tiap hari sabaTBS.
Wooo kalo beliau sejak dulu bergaul maul dengan Pak Gendon dan Murtidjono
Pak Murti, saya sempat besuk saat beliau mondok, sebelum sedo, di RS Sardjito Yogya. Saat itu saya bekerja di Tribun Jogja. Ketika beliau sedo, dan dimakamkan di Solo, saya tidak bisa melayat karena saya di Yogya.
🙏
Saya gak kenal secara pribadi tapi pernah jagongan wédangan di TBS malam, bersama orang lain yang saya juga gak kenal tapi tahu, Halim HD.
Saat itu saya katut orang yang juga tdk kenal saya, Romo Sindhu, nunut mobil dari Yogya. Saya dan perupa Mas Hari Budiono mau naik kereta ekonomi dari Solo ke Semarang, bikin foto dan cerita perjalanan. Biaya nginep di hotel Solo lbh mahal daripada harga tiket. 🤣
Di Solo beberapa contoh nama warung makan di kampung-kampung : Sori Talok (ngisor wit talok), Sor Waru (ngisor wit waru), dll.
Yang ini populer di kalangan budayawan-seniman : Warung Makan Sor Pelem di bagian belakang Taman Budaya Surakarta (TBS) alias TBJ (taman Budaya Jateng) di Surakarta.
Yang di TBS apa menu andalannya?