Di bawah pohon itu, tempat orang nongkrong setelah kebaktian di gereja, saya lihat seorang bapak mengantongi tabloid terlipat dalam saku baju batiknya. Saya memohon pinjam tabloid internal Adiyuswa terbitan Sinode Gereja Kristen Jawa untuk lansia itu. Ada TTS di dalamnya.
TTS itu bertajuk Obat Anti Pikun. Ya, mengisi TTS dan permainan sejenis dapat mengerem laju amnesia. Membaca, menulis, dan berdiskusi sangat membantu dalam proses memelihara ingatan.
Sekarang ada media sosial. Lansia dapat berdiskusi maupun sekedar bertukar kabar secara tertulis. Cara itu lebih merawat memori ketimbang sekadar berbagi video grup WhatsApp, dan semua tanggapan hanya berupa emotikon. Bagi lansia hal itu dapat menggerus kemampuan verbal dalam menulis.
Maka lihatlah cendekiawan sepuh. Misalnya Emil Salim (93). Ingatan dan kemampuan analitisnya masih jernih. Sepanjang raga masih sehat untuk ukuran usianya, lansia seperti almarhum B.J. Habibie (meninggal dalam usia 83, pada 2019), memiliki daya ingat dan kemampuan bertutur yang baik, padahal banyak lansia sebaya yang kepikunannya merambat dengan cepat.
Haruskah semua orang merawat ingatan dengan membaca dan menulis? Beda orang beda kebiasaan. Kemarin saya dijamu seorang ibu berusia 67 yang masih dapat mengingat banyak hal termasuk tanggal-bulan-tahun untuk hal tertentu. Padahal dia bukan pembaca aneka konten berupa teks.
2 Comments
Aku sampai beli buku TTS Kompas, Paman, karena ceritanya mau mencegah pikun sejak muda. Sudah lama aku belinya, tetapi sampai sekarang baru terisi sedikit. Itu pun mengisinya dibantu Google. Wkwkwk.
Lha salah satu fungsi Google dan AI kan memulihkan ingatan kita. Apa salahnya kan? 😇💐