Bocor Alus Tempo ke Solo

Bagi banyak orang, pagar api bisnis pers makin sulit karena lanskap media berita sudah berubah. Apakah independensi masih bernilai?

▒ Lama baca 2 menit

Bocor Alus Tempo ke rumah tatapan Mulyono di Solo —Blogombal.com

“Ngapain anak-anak Bocor Alus Tempo ke rumah orang itu, di Solo?” tanya Kamsi.

“Hak mereka untuk mertamu dan hak tuan rumah untuk menerima dua jam, Jeng,” sahut Kamso.

Linda Wingko menyergah, “Orang Tempo cari perhatian buat naikin trafik? Pake ngalahin pengantre pula.”

“Nggak konsisten. Sering ngejek wong Solo itu lantas cari muka!” kata Siti Link.

“Kita akhirnya harus hati-hati sama kanal kreator konten. Di depan lurus, di belakang bengkok. Ya nggak, Oom Kam?” kata Wulan Jula Juli.

“Setahu saya sih Bocor Alus itu sneak preview dari liputan Tempo. Cuma sarana promosi dan engagement dengan pembaca. Itu bedanya dengan obrolan di kanal lain,” jawab Kamso.

“Halah, maaf Oom. Itu paradigma lama saat media lawas hasil organisasi berita merasa jadi mainstream. Sekarang yang jadi mainstream tuh media sosial. Malah justru media berita yang suka nyomot isi talk show, eh podcast, jadi berita. Ocehan orang tenar di IG aja jadi berita. Lucu juga, isi obrolan di YouTube kan nanggepin sikon yang jadi berita, lalu jadi berita di media teks. Tapi isi di media berita nggak ada wawancara khusus dengan narasumber penting yang relevan. Udah bukan jamannya lagi wawancara dipindah jadi tulisan panjang,” Wulan berceramah.

Kamso terbahak.

“Terus soal iklan apapun namanya dari Agrinas di Tempo gimana dong?” tanya Siti.

Kamso enteng menjawab, “Kan udah Tempo jelasin soal pagar api? Urusan redaksi dan iklan beda. Dulu banget juga ada kasus mirip dari industri pulp, iklan eh advertorial kalo gak salah. Kalo masyarakat nggak paham ya masalahnya ada di masyarakat.”

Wulan langsung menyambar, “Ini dia contoh kepongahan dan kenaifan publisher! Bukannya duit dari iklan juga buat ngongkosin liputan dan gaji awak redaksi? Kalo mau lempeng dan terbukti independen, tolak aja iklan dari pihak seberang dan pihak yang berafiliasi! Okelah bukan pihak seberang tapi pihak yang merasa dipojokkan oleh berita objektif dan balanced lalu memusuhi!”

“Dulu Oom Kam pernah cerita soal redaksi dan penerbit media yang mencopot iklan programatik karena isinya nggak cocok sama selera redaksi. Masa ada konten ngeledek obat kuat tapi karena nggak diseleksi, iklan yang nongol justru afrodisiak. Media yang itu akhirnya tewas, berat di ongkos, maunya semua konten dari luar itu legal, pake bayar. Hahahaha!” Siti mencoba mengunci pembicaraan.

“Jadi gimana dong cara bikin media yang secara bisnis sehat, bukan cuma nyontek media lain, punya karya foto bagus bukan hasil AI, dan dapat kutipan langsung dari sumber berita yang cuma jadi bahan kapitalisasi bagi homeless media? Lebih sial lagi, hasil kerja jurnalistik beneran sejumlah media berita akhirnya dirangkum oleh media kecil yang nggak punya alamat pos apalagi ada di Google Maps, nulis tanpa atribusi. Gimana dong?” tanya Linda.

Tinggalkan Balasan