Persoalan presiden bilang bajingan

Tidak sepenuhnya salah, tak seberat memaki "Ndasmu!", tapi apa tak ada kata lain bagi Bowo?

▒ Lama baca 2 menit

Persoalan Presiden Prabowo bilang bajingan — Blogombal.com

Bowo lagi. Soal pidato lagi. Ahad lalu saat berpidato dalam peringatan Hari Koperasi, dia menyebutkan kata “bajingan”. Itu pun dengan susulan pertanyaan untuk Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti, apakah presiden boleh mengatakan bajingan.

Tentu kita harus melihat konteks. Dalam video di bawah, menit ke 1.44, Bowo mengatakan:

Apapun latar belakang kita, apapun suku kita, apapun latar belakang kita, apapun partai kita, semua partai banyak patriot dan semua partai banyak bajingannya juga.

Bajingan. Sebagai kata bisa berarti penjahat, dan dapat juga umpatan, tergantung pada konteks pengucapan. Sebagai candaan akrab pun bisa.

Saya tak membahas bajingan yang dalam bahasa Jawa mulanya berarti kusir pedati. Namun bagi saya pilihan kata Bowo sebagai presiden, dalam pidato resmi, tidak tepat. Bukankah masih banyak kata lain untuk menyebut perilaku buruk orang partai? Misalnya penjahat, orang licik, orang culas, dan sebangsanya.

Pada 2023, saat berpidato dalam acara buruh, Rocky Gerung pernah menyebut presiden saat itu, yang merupakan pendahulu Bowo, “Itu bajingan yang tolol!” Banyak orang kurang sreg dengan ucapan itu. Saya juga. Tetapi Rocky bukan capres maupun presiden.

Sebuah majalah berita yang berbahasa bagus, dalam suatu laporan berkisah tentang masyarakat di luar negeri pada 1980-an, menyebut kelompok ABG pelaku kejahatan sebagai “bajingan cilik”. Setahu saya tak ada pembaca protes. Saya pun tak berkeberatan. Dalam tuturan tertulis, seperti halnya tuturan lisan, hal itu boleh asalkan jelas konteksnya. Kalau dalam dokumen resmi partikelir maupun pemerintah tentu tidak patut.

Butet Kertaradjasa sering mengucapkan “uasuu” di ruang publik, termasuk di media sosial, tetapi ya biar saja. Soimah ketika diwawancarai Dewa Budjana dalam kanal YouTube, enteng saja menyebut pewawanca “asu” karena mereka memang akrab dan saling mengagumi.

Saya tak menganggap ucapan asu (anjing) boleh dilontarkan kapan pun, namun saya bisa menenggang orang Jatim mengucapkan jancuk (sama artinya dengan f*ck) dalam situasi akrab. Saya menoleransi tetapi tidak ikut.

Lebih dari sekali Bung Karno menyebut sontoloyo dalam ucapan maupun tulisan. Itu kasar, untuk menyebut perilaku buruk. Namun saya dapat menenggangnya dengan melihat latar zaman. Hari ini bagi saya kurang patut misalnya seorang pejabat, bahkan tingkatnya di bawah presiden, dalam acara resmi menyebut sontoloyo.

Ada gradasi makna dalam ucapan kasar dan itu pun bisa berbeda tafsir bagi setiap kalangan. Saya kadang mengatakan maupun menulis sontoloyo, bisa lengkap sebagai semprul sontoloyo. Subdomain dalam URL untuk blog alumni teman kuliah dulu saya namai SS80, Semprul Sontoloyo 80. Mulanya dalam bahasa Jawa sontoloyo berarti gembala bebek, sehingga muncul ungkapan untuk menyesalkan suatu hal, “sontoloyo, angon bebek ilang loro” (sontoloyo, menggembalakan bebek hilang dua).

Kembali ke bajingan yang dikatakan oleh seorang presiden. Kata itu, karena tidak dimaksudkan untuk mengumpat, bagi saya tidak separah saat Bowo sebagai capres menyebut ndasmu terhadap lawan politik yang mempersoalkan etika. Beda rasa, beda makna, beda tingkat kepatutan dengan bajingan sebagai sebutan untuk orang-orang partai.

Buku Pengantar Etika Ndasmu! — Blogombal.com
¬ Klik gambar untuk membaca arsip

Setiap bahasa, khususnya kelompok sosial penuturnya, memiliki kosakata umpatan, setidaknya kata yang peyoratif. Kamus resmi yang baik memasukkan semua kata kotor ke dalam lema. Adapun pola makian yang hampir berlaku umum pada banyak bahasa untuk memprovokasi kemarahan lawan bicara biasanya menyebut genitalia, terutama milik perempuan, khususnya ibu, dan kopulasi.

Tentu apa yang ada dalam kamus tak berarti boleh digunakan dalam setiap kesempatan dan ranah komunikasi. Dalam tulisan saya tentang PSK (2022), yang membahas kata “lo**e” yang dulu bermakna kuwangwung (kumbang), tersebutkan, “Tapi yang ada di KBBI kan nggak berarti boleh diucapkan kapan saja di mana saja…”

Saya masih berharap presiden yang dipilih rakyat dapat menata ucapan dalam berpidato. Seorang pemimpin dalam demokrasi tak hanya memedulikan rakyat yang memilihnya karena dia memimpin seluruh rakyat.

Tinggalkan Balasan