Tempat kita tak terpakai, orang lain akan memakai

Kita tak suka jika hak kita dilanggar. Tapi saat kita melanggar hak orang lain, dan mereka diam, berarti bukan salah kita.

▒ Lama baca 2 menit
Properti tak digunakan adalah tempat menaruh barang oleh orang lain — Blogombal.com
¬ Properti tak digunakan adalah tempat menaruh barang oleh orang lain. Bersih saja digituin apalagi kalau kotor.

Cat biru pada pintu lipat itu tampak baru. Namun setahu saya tokonya selalu tutup. Lalu? Ada hal yang menarik padahal lumrah: toko sebelah, tepatnya kedai sebelah, menaruh alat kerja janitor di teras toko yang sedang tak beroperasi. Saya berharap takkan ada tongkat pel dan ember ditaruh di depan pintu.

Tadi saya sebut lumrah. Kenapa? Rumah kosong sering dijadikan tempat sampah dan menaruh barang tanpa permisi. Bahkan halaman rumah ibu saya di Yogyakarta, karena dulu tanpa pintu pagar, pernah dipakai tamu tetangga untuk memarkir mobil tanpa kulanuwun.

Properti tak digunakan adalah tempat menaruh barang oleh orang lain — Blogombal.com

Ketika adik saya tidak bisa memasukkan mobil ke halaman, maka Ibu ke tetangga, sambil minta maaf memohon pemarkir memindahkan mobilnya. Jawaban si tamu, kira-kira, “Sebentar ya Bu, ngobrolnya belum selesai.”

Baiklah, itu menyangkut orang lain. Bagaimana kita terhadap properti orang lain di tempat kerja, termasuk meja sejawat yang kebetulan sedang kosong? Apakah kita akan menaruh barang di meja, dan mengambil kursi untuk kita pindahkan sementara lalu tak mengembalikan?

Menyampah di tanah orang — Blogombal.com
¬ Soal klasik: menyampah di tempat orang lain. Kumpulan contoh kasus. Klik gambar untuk membaca arsip.

Soal sampah, tiga pekan lalu seseorang mengadu ke saya, untuk kesekian kalinya tetangga depan rumah menaruh sampah di bak sampah miliknya yang memang lebih besar. Dua yang terakhir adalah potongan kayu entah bekas apa, dan beberapa hari kemudian pecahan keramik sehingga jari tangan petugas sampah tersayat. Padahal si tetangga punya bak sampah, namun amat kecil.

Kenapa membuang sampah di bak lain, alasan si tetangga hal itu dilakukan tukang. “Selalu gitu, nyalahin orang yang kerja,” kata orang yang curhat itu.

Saya mencoba becermin. Memang sulit untuk berlaku adil, dalam arti jangan memperlakukan hak orang lain semau kita seperti kita juga menolak diperlakukan serupa. Saya juga pernah melakukan, saya sadari maupun tidak. Mungkin sekarang pun masih. Maafkanlah saya telah berlaku zalim, tidak adil.

Batas kebebasan adalah tak mengganggu kebebasan orang lain. Kalau untuk soal sampah tadi, atau mobil orang lain parkir merugikan Anda, lalu Anda memanggil polisi atau satpol PP atau malah dishub, Anda akan dimusuhi warga. Bumbu kalimat yang ditujukan untuk Anda:

  • “Nggak usah sampe segitunya, musyawarah dululah, kalo mentok baru lapor Pak RT.” — padahal Pak RT sudah menyerah
  • “Huh, sok! Kayak hidup di Barat aja!” — emang negeri Barat yang mana?
  • “Ngomong baik-baik napa? Lalu napa kemarin-kemarin situ diam aja, jadi saya anggap boleh dong.” — Anda justru diposisikan bersalah

Hasilnya, saat Anda sedang kesusahan takkan dibantu. Saat anggota keluarga Anda meninggal, belum tentu ada tetangga melayat atau membantu mendirikan tenda.

Kadang saya mencoba merenungkan, apa sih makna pidato para tokoh masyarakat dan pejabat bahwa kita adalah bangsa yang santun, beriman, dan menjunjung akhlak?

Lalu saya tersenyum, untung tak ada yang melihat, korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan saja tak dianggap melanggar adab, tak dinilai tanpa akhlak, apalagi soal lainnya. Yang penting rajin beribadah formal.

Kadang kita harus santai melihat masalah di negeri ini. Lihatlah sisi lucunya. Tetapi untuk mendidik anak apakah juga bisa begitu, pakai ilmu cincai mbojai? Masa kita menjadi templat untuk mereplikasi hal-hal buruk oleh anak bahkan cucu kita?

Tinggalkan Balasan