Stoples wadah cable ties dan nostalgia belanja perkakas

Ada saja pria yang suka beli alat tukang; bukan buat diri sendiri, tapi untuk tukang dan koleksi.

▒ Lama baca 2 menit

Stoples wadah cable ties Ace Hardware — Blogombal.com

Pengikat kabel yang biasa disebut cable ties itu akhirnya habis, saya manfaatkan untuk mengikat lembaran plastik ke pagar. Ada hal yang menyembulkan tonjolan kecil nostalgik dalam benak: jenama Ace Hardware.

Usia stoples berikut isinya sudah 19 tahun. Terhadap jenama toserba perkakas itu rasanya saya punya ikatan. Padahal saya bukan karyawan. Punya saham perusahaan itu pun tidak. Tetapi dulu saya malah punya kartu anggota segala.

Saya yakin bukan hanya saya. Di rumah kita pasti ada barang dari Ace, dari yang kecil sampai yang besar, seperti tangga sambung tiga bagian di rumah saya. Lalu dua tahun lalu jaringan toserba itu menjadi Azko. Saya menduga, belum tentu barang di rumah ada yang Anda beli dari Azko, karena lokapasar menyediakan aneka perkakas kecil sampai besar.

Ace di Indonesia, sebagai waralaba, beroperasi pada 1995. Sekitar 1996 pertama kali saya berbelanja di Ace, Pasaraya Blok M, Jaksel, malam sepulang kerja, membeli gergaji. Penjaga toko bingung memilihkan gergaji potong karena dia tak tahu perbedaannya dari gergaji belah.

Saya membeli gergaji untuk membuat rak dari kayu pinus selebar 70 cm, tinggi 1 meter, kedalaman 10 cm, memanfaatkan ruang di antara pintu dan tembok, untuk menampung majalah dan koran yang saya taruh berdiri.

Untuk koran saya gantungkan pada palang dari tongkat kayu. Saat pintu dibuka akan menutupi rak, namun takkan menyentuh rak dan palang karena terhalang ganjal pintu bermagnet pada tembok.

Saat Ace hadir, saya merasa diperkaya, terutama dari sisi pengatahuan. Membeli barang hanya satu dua namun dalam toko bisa lebih dari sejam, hanya untuk melihat-lihat.

Velcro Ace Hardware — Blogombal.com
¬ Tahun 2007: Velcro yang saya beli di Ace Hardware dijadikan gelang oleh anak saya. Klik gambar untuk membaca arsip.

Dulu belum ada toko daring. Membeli perkakas, termasuk barang kecil, itu sulit apalagi kalau kita tak tahu namanya. Padahal dulu belum ada Google dan lainnya di ponsel. Kadang saya harus ke Pinangsia, Jakarta Kota, misalnya mencari baut kaca ke tembok. Saya tak tahu bahwa namanya sign standoff screws, tetapi setelah saya menjelaskan keperluan, orang toko langsung tanggap, “Oh, maksudnya baut buat display?”

Dulu sebelum ada toko daring, sudah biasa jika para suami di supermarket besar berada di rak perkakas kecil, dari sekrup sampai obeng dan palu. Melihat-lihat, kadang beli. Dan ledekan kaum istri adalah, “Buat apa beli kalo nggak kepake?”

Setelah ada Ace, dan kemudian toko perkakas daring, ledekan kaum istri lebih lengkap. Seperti istri teman saya, “Kakangmu itu punya alat tukang komplet plet plet… tapi tetep aja manggil tukang. Padahal itu alat DIY, kan? Buat ngebor tembok aja manggil anak tetangga. Gudang jadi penuh!”

Perilaku konsumtif impulsif tak mengenal jenis kelamin. Untuk pria kolektor perkakas sebaiknya jadi Youtuber, dengan syarat kalau bisa mempraktikkan DIY, bermukim di Daerah Istimewa Yogyakarta maupun tidak, belanja di MR. D.I.Y. maupun lainnya.

Do-it-yourself hanya menyenangkan ketika menjadi angan-angan. Ketika ada uang untuk membeli barang tidak dapat melakukan dengan alasan tak ada waktu. Setelah punya waktu lalu berdalih ingin memberi pekerjaan kepada orang lain. Untuk menangkis ledekan istri, tersedia kilah, “Supaya punya waktu buat kamu, sayang.”

Hmmm… gombal Mukiyo bin Mukidi. Huh, dasar lelaki! Makanya dalam urusan tertentu saya nggak suka lelaki.

Tinggalkan Balasan