
Lukisan dinding ini menarik perhatian saya karena digambar secara manual. Bukan stiker besar hasil cetak digital. Saya menanya Inu, pemuda penjual nasi uduk, siapa yang melukis. “Saya, Oom,” dia menyahut. Saya mengacungkan jempol.

Saya juga bertanya butuh berapa warna, namun dia hanya bilang, “Nggak banyak sih. Kan warnanya saya mix.” untuk mural pada dinding dan plafon teras rumah orangtuanya, dia menggunakan cat tembok.


Berapa lama merampungkan lukisan? Dia hanya tertawa kecil, “Kan di rumah sendiri, saya bikin dikit-dikit.” Warung itu berada di area saya, di luar kompleks, masuk gang kecil.
Siang hari warung di rumah itu menjual nasi dan lauk, dijalankan oleh ibunya, hingga menjelang sore. Selewat pukul setengah enam senja, Inu membuka warung nasi uduk. Kadang pukul delapan malam dagangannya sudah habis.

