
Dari jauh hanya tampak pintu terbuka pada tembok pagar itu. Daun pisang yang mencuat dari balik tembok seolah mengabari ada lahan kosong untuk dilewati. Aku tak pernah melewati spot itu. Bahkan aku tak pernah tahu.
Aku menghibur diri, tak mungkin akan bersua jalan buntu. Kecuali lahan di balik tembok adalah milik rumah yang akan aku lewati. Tepatnya bagian belakang dari rumah itu.
Aku terus melangkah. Makin dekat ke pintu. Maka kian jelaslah, saat mulai terlihat dari balik pintu ada badan mobil. Hanya sebagian yang terlihat. Namun pikiran berjalan lebih lekas dari kata-kata. Aku segera menyimpulkan berarti takkan bertemu jalan buntu, bukankah mobil bisa masuk?
Memang terbukti demikian. Ah, ini soal biasa di perkampungan. Selalu ada jalan tak permanen yang disediakan pemilik lahan bagi warga sekitar untuk memintas jalan, terutama saat mereka berjalan kaki. Tak sopan jika orang naik sepeda, apalagi sepeda motor, melalui halaman orang lain, lalu menerobos pintu.
Setelah melewati lahan itu aku asal-asalan saja memilih gang. Akhirnya kutemukan spot yang pernah aku kenal. Aku tahu cara keluar dari kampung itu agar bisa kembali ke rumah.
Aneh, ini soal sepele, bukan pertama kali aku alami, saat aku bocah malah sering, namun aku merasa mendapatkan pencerahan. Soal apa? Selalu ada jalan keluar meskipun melalui rute yang tak aku kenal, bahkan harus memutar, seolah seperti tersesat. Pagi disertai hangat mentari itu aku merasa enteng.
Dalam masalah kehidupan juga demikian. Selalu ada jalan keluar, entah melalui rute mana dan akan seberapa lama.


One Comment
Bukan butulan?