Mural cetak digital di mana-mana

Kita akhirnya terbiasa dengan gambar cetak digital besar. Bahkan kantor-kantor pemerintah pun latah. Masa sih karena ongkosnya murah?

▒ Lama baca 2 menit

Mural cetak digital pada pagar proyek properti - Kompas — Blogombal.com

Dalam layar ponsel, foto berita tunggal di halaman Ekbis Kompas hari ini (Senin, 20/4/2026) seperti gambar surealistis. Setelah di-zoom, atau saya lihat di tablet, dunia monokrom kelabu yang menjadi latar satpamwan itu cuma gambar besar hasil cetak digital.

Mural cetak digital pada pagar proyek properti - Kompas — Blogombal.com

Kapsi foto karya Hendra A. Setyawan menyatakan:

Petugas keamanan berjaga di depan iklan penawaran properti komersial di kawasan Cisauk, Tangerang, Banten, Minggu (19/4/2026). Pasar properti komersial menghadapi banyak tantangan. Investasi di sektor properti melemah karena investor masih menunda sambil mencermati (wait and see) kondisi pasar yang terdampak tekanan ekonomi.

Sebelumnya, pada Juni 2025, Hendra juga memotret orang berlari dengan latar belakang mural proyek properti. Pagar proyek bangunan dengan gambar besar, berupa foto beneran maupun vektor, selalu sama: menyajikan proyeksi sugestif. Kelak akan demikian setelah proyek selesai. Namanya juga promosi untuk berjualan.

Mural cetak digital pada pagar proyek properti - Kompas — Blogombal.com

Kapsi untuk foto berjudul “Penawaran Rumah Baru” tersebut bertutur:

Iklan penawaran sebuah perumahan baru di kawasan Bojongsari, Depok, Jawa Barat (15/6/2025). Berdasarkan data Bank Indonesia per triwulan 1-2025, penjualan rumah tipe menengah dan besar mengalami kontraksi masing-masing 35,76 persen dan 11,69 persen secara tahunan. Sementara itu, penjualan rumah tipe kecil tumbuh 21,75 persen secara tahunan, setelah terkontraksi 23,7 persen pada triwulan sebelumnya. Pembelian rumah melalui skema kredit pemilikan rumah (KPR) tercatat 70,68 persen dari total pembiayaan.

Kita akhirnya terbiasa dengan gambar cetak digital besar. Bahkan kantor-kantor pemerintah pun latah. Komunikasi visual selain di media sosial adalah pada pagar dan dinding kantor. Dengan foto gigantis. Malah ada instansi yang menggunakan layar elektronik besar seperti untuk seminar dan konser. Padahal hanya untuk jumpa pers.

Gambar gigantis juga diterapkan di dalam ruang kelas SD. Lagi-lagi oleh Hendra, Kompas pernah memuat mural foto hasil cetak digital dalam ruang kelas di SDN Tanjung Barat 09, Jaksel, pada 2021.

Mural cetak digital dalam ruang kelas SD negeri di Jakarta - Kompas — Blogombal.com

¬ Bahkan ruang kelas SD negeri pun diberi mural, menyajikan ilusi suasana sekolah kelak entah kapan.

Kapsi untuk foto ilustrasi berita Covid-19 tersebut adalah:

Petugas Palang Merah Indonesia menyemprotkan cairan disinfektan untuk persiapan pembelajaran tatap muka terbatas di SDN Tanjung Barat 9, Jakarta, Minggu (29/8/2021). Sebanyak 610 sekolah di DKI Jakarta menyelenggarakan pembelajaran tatap muka terbatas mulai Senin (30/8).

Saya berpikir apakah penerapan foto besar dalam ruang kelas tidak berlebihan? Memang sih, mural tersebut terpasang pada dinding belakang, dipunggungi oleh meja dan kursi. Namun saya menganggap tetap lebih menarik jika tembok diisi karya anak-anak, dalam kertas A4, yang secara berkala diperbarui.

Semoga hanya saya yang penat mata karena di mana-mana melihat bilbor, berisi iklan maupun foto pejabat daerah hingga pusat, ditambah politikus. Foto pejabat, dengan pakaian dinas upacara, tak beda dari iklan mi instan dan rokok. Bagi pejabat, aku hadir melalui baliho maka aku ada. Padahal negara kerap absen.

Tak adakah ruang untuk gambar kecil? Dalam ponsel pun sebenarnya banyak gambar besar tersebab jarak mata dengan layar sangat dekat, sering kali kurang dari 40 cm, dan gambar bisa kita zoom in dengan jari.

Saya adalah bagian dari generasi lawas. Gambar latar besar yang saya lihat dulu hanya di studio foto dan pentas ketoprak serta wayang orang, hasil buatan tangan seperti baliho bioskop. Gambar latar di studio pembuat pas foto, berupa teras dengan pagar, hasil kerja manual, saya lihat terakhir di Salatiga, Jateng, pada akhir 1980-an. Saya membayangkan tjotjok untuk foto sepia. Ketika beberapa tahun kemudian saya datangi, studio itu sudah tamat.

Kini banyak studio foto memiliki backdrop berupa rak berisi buku-buku hard cover, ada yang punggungnya menyerupai serial sebangsa ensiklopedia. Biasanya untuk foto wisuda.

Lulus kuliah berarti telah menempuh jalur literer selayaknya jalan pedang. Layak dipasang di dinding rumah. Foto wisuda juga menjajikan niat dan proyeksi diri, bahwa menjadi cendekiawan itu serupa pendekar dalam olah kanuragan: tak ada orang yang terlatih, hanya ada orang yang selalu berlatih, menjalani laku.

Kini untuk urusan foto wisuda, tanpa bantuan layar hijau pun bisa ada rak bukunya, bahkan perpustakaan pribadi yang tak rapi. Cukup dikerjakan dengan ponsel. Bisa dicetak menjadi mural gigantis kalau berminat. Lalu, eh mungkin, orang lain tak kagum karena juga punya foto serupa.

Tinggalkan Balasan