
Saya menyukai logo Endorphins Cookies. Hanya bermain tipografi karena huruf pun merupakan gambar. Warna emas pada huruf berukuran besar dan warna hitam huruf berukuran kecil terpadupadankan dengan cantik. Memberi kesan classy. Kue ini memang enak.
Pilihan jenama Endorphins bagi saya unik namun mudah teraba maksudnya, berbeda dari kopi Expat. Endorfin adalah hormon kebahagiaan, demikian masyarakat menyederhanakannya. Hormon ini memengaruhi perasaan senang dan nyaman, bahkan bisa meredakan rasa nyeri.
Contoh paling mudah kenapa sebagian orang suka kerokan? Karena kerokan mengurangi prostaglandin, sehingga nyeri serasa surut karena sinyal rasa macam itu dihambat ke otak. Gesekan koin, apalagi edisi 50 Tahun Indonesia Merdeka, ke kulit memperlebar pembuluh darah sehingga aliran darah lebih lancar, badan lebih nyaman. Ditambah nyeri pegal reda, dan perasaan nyaman, tidur pun lebih nyenyak.
Endorfin tak hanya dapat dipetik dari kerokan tetapi juga dari makanan kesukaan, musik, sinar mentari pagi, dan tertawa. Kata pemeo, hati gembira adalah obat. Setelah kerokan lalu punggung menyerupai macan loreng bukan masalah. Yang penting hepi.
Tentang jejak kerokan, saya belum pernah melihat foto dengan model berpunggung harimau. Kalo bertato sebadan itu lumrah. Model intimate lingerie berbadan harimau saya juga belum pernah melihat. Padahal kata Halodoc, dalam artikel yang sudah ditinjau oleh Dokter Budiyanto, M.A.R.S., endorfin juga dapat dihasilkan dari berhubungan seksual. Eh, tetapi bukannya setelah kerokan ada rasa nyaman? Ya, bagi yang dikeroki. Entah bagi orang lain, mana ada bau minyak kelapa dan kayu putih pula.

2 Comments
Pernah dengar, lebih baik diurut daripada dikerok, Bang Paman..
Btw kukisnya menarik, rasa apa tuh? #kepo
Yang penting jangan jadi biang kerok. Rasa kukis? Saya malah lupa karena cuma ngicipin dikit, terlalu manis buat saya. Saat itu saya lagi eneg sama roti dan kue 😇