Kompas Minggu tidak mati

Kompas edisi Minggu tetap ada, isinya mirip edisi harian. Kompas Akhir Pekan beredisi Sabtu/Minggu.

▒ Lama baca 2 menit
Kompas gaya baru 2026, ada edisi Minggu dan Sabtu Minggu (Akhir Pekan) — Blogombal.com
Kompas Minggu yang terbit Ahad dan Kompas Akhir Pekan yang bertanda terbit Sabtu/Minggu.

Demikianlah, Kompas Minggu (KM) memang tidak mati. Sudah sebulan ini tetap terbit. Isinya seperti Kompas edisi Senin sampai Jumat, sepanjang bukan tanggal merah. Adapun edisi Sabtu gaya baru, yang bernama Kompas Akhir Pekan (KAP), isinya berbeda dari hari lain.

KAP memuat hari terbit Sabtu/Minggu, diikuti tanggal bulan tahun. Sedangkan KM bertanda terbit Minggu diikuti tanggal bulan tahun.

Kompas gaya baru 2026, ada edisi Minggu dan Sabtu Minggu (Akhir Pekan) — Blogombal.com
Kiri: Halaman depan Kompas Minggu 2026, seperti edisi hari kerja. Kanan: edisi akhir pekan (Sabtu/Minggu) dengan serupa poster, hemat kata.

Perbedaan lain? Tampilan KM ya seperti edisi hari lain, yang mengisi halaman depan adalah berita mutakhir — dalam versi cetak tentu telat jika dibandingkan media daring.

Kompas gaya baru 2026, ada edisi Minggu dan Sabtu Minggu (Akhir Pekan) — Blogombal.com
Gaya memajalah Kompas Sabtu/Minggu (24/25 Januari 2026), tentang bar yang tidak bising, sebagai tren gaya hidup urban.

Kenapa saya pernah menulis KM tamat? Yang tamat itu edisi cetak. Saat itu saya belum melihat KM dan KAP seperti apa karena masih tanggal 20 Desember 2025, padahal perubahan mulai Januari 2026. Sementara teks tubuh dalam iklan tak ada penonjolan dari sisi tata letak tentang edisi e-paper, eh e-koran.

Kompas gaya baru 2026, ada edisi Minggu dan Sabtu Minggu (Akhir Pekan) — Blogombal.com
Salah satu dari serial iklan Kompas gaya baru, dalam Kompas Desember 2025. Sosok Generasi Z dijadikan model.

Isi KAP sebagian merupakan pindahan dari KM versi pra-2026. Maka TTS dan cerpen pun pindah ke KAP.

Lalu? KM baru maupun KAP ya tetap khas Kompas. Masing-masing menyajikan kedalaman dengan konsekuensi teksnya panjang, dalam satu tajuk, tak dipecah menjadi beberapa judul dalam satu halaman, suatu hal yang mungkin tak membuat telaten pembaca media daring yang terbiasa dengan berita sela (breaking news) ringkas namun nyaman dengan aneka video termasuk yang berisi berita dan opini bertopik aktual.

Gaya Baru Kompas ini membutuhkan adaptasi pembaca setia. Kalau untuk pembaca baru — dalam arti selama ini hanya mendengar ada koran bernama Kompas, bahkan menyamakannya dengan Kompas.com — malah bukan masalah.

Kompas gaya baru 2026, ada edisi Minggu dan Sabtu Minggu (Akhir Pekan) — Blogombal.com
Jangan bingung. Ini halaman dalam edisi akhir pekan, 17–18 Januari 2026 dan 24–25 Januari 2026, sepintas mirip halaman depan edisi hari kerja. Ada Tajuk Rencana yang tak ada hubungannya dengan topik laporan utama yang lunak.

Entah sampai kapan koran cetak Kompas maupun versi e-paper-nya bertahan. Tetapi bukankah ada Kompas.id yang lebih lengkap?

Kenapa saya bilang entah karena kesan saya orang enggan membayar untuk media berita daring, namun bersedia membayar untuk layanan pengaliran musik maupun video.

Alasan mereka yang enggan membayar berita adalah karena sudah mengeluarkan biaya akses. Alasan lain, musik dan film tak ada kembarannya, kecuali bajakan.

Kalau untuk berita, banyak versi yang mirip, lintas platform, bahkan sejumlah konten video di media sosial telah menyarikannya ditambah opini. Mau lebih praktis? Manfaatkanlah AI untuk mendapatkan ringkasan sebuah topik berita, lengkap dengan tautannya.

Masalahnya adalah etika, sehingga The New York Times marah karena arsip gratis abad lalu dicomot layanan AI tanpa peduli konteks bahwa keadaan 1960-an dan sekarang berbeda. Tak hanya arsip koran berbayar, isi buku dan jurnal berbayar pun bisa dicomot oleh akal imitasi. Ekosistem penerbitan pun meradang. Logika konsumen maunya gratis, logika pengusaha maunya berbayar.

Kembali ke koran dan majalah, ya. Saat media cetak masih berjaya, bukankah konsumen koran dan majalah tahu bahwa mereka tak hanya membeli kertas? Harga majalah luks bekas yang masih tersegel itu murah, apalagi koran bekas nan lecek.

Dunia media terus bergerak mencari keseimbangan. Kreator konten di YouTube dan Instagram menyediakan opsi pelangganan atau keanggotaan untuk konten eksklusif.

Artinya khalayak sebenarnya bersedia membayar kalau bersuai dengan minat dan kepentingannya. Bukan hal baru, begitu internet disukai orang, pada abad lalu, padahal belum ada internet ponsel, situs porno sudah menjala uang — meneruskan layanan telepon premium call erotis. Saat itu pembayaran dengan kartu kredit menjadi penyaring batas usia minimum.

Perbandingan Kompas Minggu dan Kompas Akhir Pekan

Minggu

Akhir Pekan

Penanda edisi terbit

Minggu

Sabtu/ Minggu

Perwajahan

Seperti edisi hari kerja

Terkemas khusus, gambar lebih besar

Proporsi gambar dan teks

Sekitar 40:60

Sekitar 40:60, bahkan bisa sebaliknya

Tebal

16 halaman

20 halaman

Berita utama halaman depan

Seperti edisi hari kerja, merupakan berita mutakhir media cetak

Bergaya poster, merupakan berita kisah (feature) yang mendalam

Berita politik & hukum

Ada

Sebagai laporan mendalam

Berita interna-sional

Ada

Sebagai laporan mendalam

Berita ekonomi & bisnis

Ada

Sebagai laporan mendalam

Laporan riset

Ada

Sebagai laporan mendalam

Berita regional (daerah)

Ada

Sebagai laporan mendalam

Berita olahraga

Ada

Sebagai laporan mendalam

Tajuk rencana

Tidak ada

Ada

Infografik sehalaman penuh

Ada (di luar pengantar, teks ringkas untuk penjelas adalah bagian
dari desain)

Tidak ada

Cerpen

Tidak ada

Ada

Puisi

Tidak ada

Ada

Rubrik gaya hidup

Tidak ada

Ada

Rubrik fesyen

Tidak ada

Ada

Rubrik kuliner

Tidak ada

Ada

Rubrik otomotif

Tidak ada

Ada

Rubrik seni

Tidak ada

Ada

Kolom seni dan budaya

Tidak ada

Ada

TTS

Tidak ada

Ada

Rubrik fotografi

Tidak ada

Ada

Resensi buku

Tidak ada

Ada

Tajuk Rencana

Tidak ada

Ada

¬ Bukan tulisan berbayar maupun titipan

Tinggalkan Balasan