
Iklan Kompas di korannya sendiri hari ini (Kamis, 30/10/2025) menarik dari sisi desain grafis. Namun dari sisi pesan ya biasa saja, cuma mengulang pesan usang. Semua orang tahu bahwa membaca itu bermanfaat, bahkan penting, tetapi bagaimana mengatasi keengganan membaca?
Ini seperti pengingat bahwa makan buah dan sayur itu berfaedah bagi kesehatan, tetapi bagaimana menggerakkan orang yang meski punya duit kadung berpola makan tak sehat?
Mereka tahu nilai lebih sayur dan buah, bahkan sampai tahu bahwa buah tertentu tinggi kandungan gulanya, dan paham bahwa berlebihan belimbing tidak bagus untuk lansia yang fungsi ginjalnya banyak merosot.

Baiklah saya lanjutkan lanturan saya. Banyak orang paham bahwa banyak berjalan kaki itu sehat. Tetapi tak semua orang suka dan sanggup. Ada yang kuat alasannya, dan ada yang tidak.
Kembali ke urusan membaca, tentu membaca tak harus dari kertas, terutama buku. Kini kita hidup dalam era gawai digital. Kita lebih sering membaca dari layar. Namun hal itu disertai adaptasi tiada henti menghadapi distraksi kalau kita hanya bergawai tunggal.
Membaca, dalam arti menyerap informasi, juga tak terbatas dari teks, yakni aksara, secara harfiah. Televisi, video, radio, dan gambar juga bisa disebut teks dalam arti luas. Masalahnya, teks — dalam arti luas — apa saja yang kita baca?
Secara intuitif kita tahu dan mempraktikkan bahwa membaca itu akan bertemu pintu demi pintu. Dari kata oksalat, tanpa harus paham kimia, kita akan mencari tahu kenapa berbahaya bagi orang gagal ginjal, padahal belimbing bagus untuk pengidap hipertensi. Ternyata kristal oksalat tak dapat larut sehingga melukai ginjal.
Informasi macam itu tak hanya ada dalam bacaan. Bisa juga berupa video pendek, bahkan dalam siaran radio. Yang menjadi masalah apakah infonya ringkas namun benar atau malah menyesatkan? Kebiasaan membaca membuat kita cenderung skeptis lalu mencari informasi lain. Membuka pintu demi pintu. Cukup dari ponsel kita.
Membaca juga memperkaya bahasa kita. Sama seperti kita mendengar tuturan bagus dan tertata dalam video panduan — kalau dibuat dengan AI, meski berupa bahasa gaul, mestinya lebih terstruktur, asalkan berbasis teks. Mestinya AI juga bisa memperbaiki tata kalimat lisan kita dalam media rekam.
Persoalannya di mana batas kita bisa mengingat? Beruntung, teknologi digital apalagi dengan AI membantu kita menemukan kata. Kata oksalat memulihkan ingatan kita lebih spesifik tentang “entah namanya apa pokoknya kata dokter ada zat berbahaya dalam belimbing”.
Kalau tanpa ponsel, tanpa media sosial, tanpa radio dan televisi, tanpa kertas bacaan, dan tanpa bercakap-cakap dengan orang lain, apakah kita akan cepat pikun parah? Beda orang beda masalah.
Seorang profesor emeritus cemerlang bisa terkungkung amnesia kemudian demensia karena sejumlah faktor. Tetapi para simbah yang buta huruf, termasuk nenek saya, bisa dijemput kepikunan lebih lambat dari orang lain yang sebaya.
Ujaran jenaka nan jadul mengatakan, banyak membaca akhirnya juga lupa, sama dengan orang yang tidak membaca juga tak tahu apa-apa, maka tak usah membaca karena hasilnya sama.
Mungkin benar. Namun dalam membaca apa pun, sekali lagi tak hanya dari kertas, ada satu hal yang mereka pahami: keasyikan membuka pintu demi pintu informasi dan jelajah kebahasaan, bahkan misalnya pun hanya sebatas bahasa Indonesia.
Jika disertai menulis, keasyikan itu bertambah. Bagus untuk kesehatan otak. Kecuali ganguan serius datang dan menghapus memori. Bapak saya pernah bercerita bahwa temannya, seorang profesor sosiologi yang senang berjazzria dengan organ, mengalami amnesia karena strok akibat menyaksikan sebagian rumahnya terbakar.

6 Comments
Omon-omon tentang membaca, jadi ingat si wapres itu, yang ternyata sama dengan saya : tidak pernah membaca buku, dan sering membaca komik.
Seno Gumira Ajidarma jadi doktor karena suka baca komik. Disertasinya tentang Panji Tengkorak. Hingga kini dia masih membedah komik. Temuan dan Kajian ya selalu menarik.
Ini ada contoh terbaru.
Hidup para pembaca komik! (Termasuk wapres…)
Lik Jun mbahas apa sih?
Saya banyak membaca, sampai sekarang, apa saja saya baca, kadangvresep makanan juga saya baca. Tapi saya payah dalam hal ingatan. Menonton film juga begitu. Selang beberapa hari setelah menonton, saya lupa apa cerita film yang saya tonton.
Saya juga mulai begitu. Namun sejumlah tipis residu memori masih mengendap.
Yang mengasyikkan dalam menyerap informasi memang prosesnya, bukan hasilnya 😇