
Silakan Anda baca tarif parkir di sebuah ruko di samping markas damkar Lebakbulus, Jaksel, ini. Ongkos parkir sepeda motor 125 cc ke atas lebih mahal daripada 125 cc ke bawah.
Saya tak tahu apa alasannya. Apakah motor 125 cc ke atas pasti lebih gemuk daripada yang volume silindernya lebih rendah, sehingga lebih menyita ruang?
Saya juga membatin, bagaimana membedakan ukuran cc dari tampilan fisik motor? Mungkin jawabannya adalah hanya orang yang paham motor yang bisa.
Kalau merujuk tempat cuci mobil, patokan ongkos lebih mudah, yakni kecil, sedang, dan besar, disertai contoh model merek, misalnya yang besar itu Toyota Fortuner.
Kalau prinsip parkiran motor diterapkan di parkiran mobil, misalnya di atas dan di bawah 1.500 cc bakal merepotkan. Misalnya Toyota Avanza 1.300 cc dan 1.500 cc yang bersosok sama. Kita tahu, volume riil silinder 1.500 cc sering kali di bawah itu, tapi bahasa pemasaran membulatkan ke atas.

8 Comments
BTW kakak saya pernah pakai Suzuki GT 185 yang dobel knalpot itu.
Wah top itu. Mulya saèstu rumiyin.
Di basecamp pendakian Gunung Lawu via Cemoro Sewu, tarif parkir (menginap) untuk mobil sebesar 6x tarif motor.
Hitungan yang masuk akal –entah ada yang protes atau tidak–, ruang parkir mobil kecil sekalipun rasanya memang muat untuk 6 motor.
Sepakat. Tapi motor yang badannya kecil kalau diparkir sembarangan akan menghalangi rezeki karena mobil tidak bisa parkir.
Contoh motor 125 cc itu apa ya? Kalau di atas 125 cc ada, misalnya, RX King (135 cc), KLX 150 dan 250 serta CRF 150 dan 250, dan tentu saja Ducati😁.
Oh iya dhing motor 125 cc ada RX 125 yang berknalpot dua — pit montor lawas.
Shogun SP? 😀
Tepok jidat. Baru ingat pernah ada Suzuki Shogun, padahal dulu saya yang menandatangi pemesanan dua Shogun untuk operasional kantor.
Yamaha AS 3 Twin, dobel knalpot, pendahulu RX King generasi pertama