“Itu apa alasannya intel polisi merampas hape wartawan Kompas.com yang lagi meliput demo di DPR? Dua hape diperiksa, hape pribadi dan dinas. Isinya dilihat, ya foto, ya WA dengan keluarga? Wartawan Rusia diperiksa isi kameranya?” tanya Kamsi.
Kamso menyahut, “Nggak tau siapa pelakunya. Wartawan Kompas.com cuma menduga dua orang itu aparat keamanan, tiba-tiba narik dari belakang waktu dia ambil gambar.”
“Terus Kapolri bilang apa, Mas?”
“Belum tau aku. Ini repotnya. Kedua orang itu nggak pake seragam, nggak bilang kalo polisi, jadi bisa aja dibantah.”
“Mungkin mereka tentara?”
“Nggak tau juga aku.”
“Aneh. Sewenang-wenang.”
“Kalo nyangkut foto, polisi dan tentara kadang nggak suka kalo foto di area publik direkam. Dulu jaman dwifungsi, kamera wartawan yang motret pesawat AU jatuh di Condet dirampas, filmnya dikeluarin. Sekarang kalo ada pesawat jatuh, hape warga yang duluan motret. Mosok mau meriksa semua hape. Susah. Tapi merampas hape warga di lokasi sih mudah. Habis itu warga repot ngambil hapenya, bisa aja ketukar. Tapi ini asumsi, Jeng.”
“Lha katanya pekerjaan jurnalistik itu dilindungi?”
“Buat aparat itu kadang nggak penting. Kalo mereka merasa dirugikan bisa berhak menghalangi.”
“Kayak preman dong!”
“Beda. Kalo preman nggak punya payung hukum.”
“Kalo aparat?”
“Bertindak dulu, urusan payung hukum biar atasan yang entar nyari alasan, kalo perlu menyangkal, atau bikin cerita versi mereka.”
“Kok gitu?”
“Ya gitu. Orang di lapangan maunya cepat, tanpa bekal pemahaman masalah. Mereka merasa aman karena melakukan tugas, perintah. Ada atasan yang akan tanggung jawab.”
“Padahal atasan belum tentu bertanggung jawab?”
“Menyangkal, itu termasuk bentuk tanggung jawab melindungi korps dan anak buah.”
“Enak dong!”
“Tergantung atasan dari di atasan itu sampai atasan yang lebih tinggi. Jadi pemimpin itu nggak gampang.”
¬ Gambar praolah: cellclinic.ca