Menyenangkan bagi Kamso, menonton pensiunan berbantah-bantah soal politik dalam selamatan rumah hasil renovasi Pak Edi, tetangga se-RT.
“Tuh Pak, presiden yang sampean pilih baru seratus hari lewat udah didemo,” kata Pak Karman Ghia kepada Pak Fauzi Botol.
“Yah, salah dia, bikin kabinet gemuk dan badan lain yang lelet, koordinasinya susah. Tapi kan ada warisan masalah dari presiden sebelumnya, yang dua kali sampean pilih sebelum Pilpres 2024 kemarin,” Pak Fauizi membela diri.
Pak Harsono Gemblong nyeletuk, “Masih lebih beruntung yang dalam seratus hari sadar salah pilih. Lha daripada sembilan tahun percaya, lalu jadi benci setelah ada skandal di MK, habis itu semua borok dibuka.”
Semua tertawa, termasuk para penyimak. “Kalo saya cuma ketipu tujuh tahun. Habis itu gutbai dah!” kata Pak Beni Wajan.
“Saya sih dari dulu nggak milih Mulyono. Milih Prabowo karena suka ama dia, siapa pun wakilnya. Di pilpres kemarin, wakilnya nggak saya itung, namanya juga paket menu. Yang penting tuh makanan utamanya. Saya nggak doyan ampela, buat kucing aja. Kalo sekarang saya kecewa ya itu risiko, terutama sejak gas melon susah dan anak saya yang ASN honorer selesai kontrak. Kita beli produk kan ada kemungkinan garansi cuma tipuan,” kata Pak Ilham Kasur.
Pak Abror Topi menyahut, “Yah, ketipu tuh nasib rakyat. Tahun 2014 dan 2019 saya milih dia. Lalu 2024 saya milih bekas lawannya atas sinyal dari orang yang sebelumnya saya pilih dua kali itu. Sekarang peduli amat sama mereka!”
Pak Dedi Kumaha yang sedari tadi menikmati rokok kretek nyeletuk, “Bener. Cuekin aja mereka. Dari dulu saya sih nggak peduli pilpres, pilkada, pileg, pèlek, atau pil lain. Nggak ada gunanya!”
“Situ beda, dari dulu golput! Itu sih nggak tanggung jawab. Orang yang milih lalu kecewa itu punya alasan moral buat kecewa, kalo perlu ngelawan!” kata Pak Fauzi.
Sebagai penonton, Kamso tertawa.
One Comment
Presiden pilihan AI 🙈