Eh, kata siapa jual rumah tidaklah mudah? Kata saya. Maksud saya ada yang lekas laku, dan ada yang tak kunjung dibeli orang. Apa saja masalahnya pasti salah satunya kecocokan harga. Pikiran itu muncul saat saya melihat spanduk jual rumah pada sebuah pagar tanggul kali.
Yang saya maksud tak cepat laku itu kalau spanduk yang dipasang akhirnya luntur dijilati cuaca dalam perjalanan kalender. Ada yang sampai spanduk atau papan nama pialang propertinya lebih dari seorang.
Kita tahu, makelar rumah adalah orang yang tak merahasiakan nomor ponsel, bahkan mengumumkannya di tempat terbuka pada sejumlah lokasi, supaya difoto peminat lalu hasilnya disimpan dalam kontak atau peminat malah langsung menelepon. Bahwa sang pialang punya lima nomor ponsel, itu lain soal. Eh, tiba-tiba saya ingat, pada awal kemunculan blog dulu ada saja bloger yang mengumumkan nomor ponselnya. Kenapa ya?
Perihal pengiklanan jual rumah, di koran masih ada. Padahal pembaca koran sedikit, bahkan jumlah koran menyusut. Apakah Anda pernah membeli rumah karena melihat iklan?

4 Comments
Sampai sebelum covid lalu belum baca KR intens, paling sekilas dan itu hanya SST.
Ini pun layak sungguh-sungguh terjadi 👍😂
Iklan jual rumah dan tanah di KR termasuk yang pasti saya baca selain SST. Baru tahu harga di sekitaran kampus UII, sekitaran itu ya radius 5-8km, per meter sudah 3,5jt.
Ada bbrapa iklan yang muncul berkali-kali berhari dan berbulan. Tapi pernah coba telepon sore, setelah pagi baca iklannya, udah laku katanya.
Lelucon lawas garing: Di KR, yang faktual cuma SST. 🙈
BTW, Mas Dodo inget gak, abad lalu di KR sering muncul iklan makelar tanah, orangnya pake blangkon dan surjan, dengan tagline sabar menanti? Kalo bukan orang Gandekan ya Pajeksan.