Manisan ini memberikan rasa daging buah yang belum pernah saya rasakan. Rasa aslinya hilang, tertutup gula, kayu manis, dan cengkih. Saya sempat menerka itu dari pepaya muda, tapi tak ada rasa klethus. Lalu saya menebak dari labu siam. Agak mendekati ternyata.
Ya, tamu saya yang mencicipi bilang ini manisan bligo. Ayahnya di Kudus pernah menanam, “Ora bisa dimasak, tangga ora sing gelem.” Tidak bisa diolah, tetangga tak ada yang mau. Akhirnya buah pun menganggur.
Bligo, beligo, buah kundur, winter melon. Benincasa hispida. Buah ini kaya gizi, dapat mengobati sejumlah penyakit, antara lain migrain (¬ Honestdocs). Bunganya bagus.
Apa tadi? Bligo? Sudah puluhan tahun saya tak dengar nama itu. Aha, saya ingat itu nama sebuah desa di Ngluwar, Kabupaten Magelang. Bisa dicapai dari Condongcatur, Sleman, Jogja, dengan menyusuri Selokan Mataram, melewati pintu air besar Bendung Karangtalun (¬ lihat Ditjen SDA PUPR) yang disebut Ancol, menaikkan air Kali Progo ke selokan (kanal) menuju hilir di Kali Opak, Prambanan, sejauh 30-an kilometer.
Suatu malam saya pernah dari desa itu naik motor kembali ke Jogja dengan lampu padam tanpa punya cadangan. Itu zaman nggak mutu, abad lalu. Kebetulan pas terang bulan. Ibu saya dahulu bilang, bligo itu nama buah semacam labu. Lumrah jika toponimi sebuah desa dari vegetasi. Di Sidoarjo, Jatim, juga ada Desa Bligo. Lidah Jawa melafalkannya “mbligo”.
Di lokapasar bligo juga dijual. Harga sebuah, dengan berat sekitar dua kilogram Rp25.000.
Jadi arah cerita saya ini apa? Menata ingatan, bermula dari beberapa potong manisan, lalu menuliskannya dalam blog. Itulah cara merawat ingatan, supaya isi blog saya tak melulu tentang diri sendiri.
¬ Foto bunga dan gambar buah Benincasa hispida: Wikimedia Commons (CC BY-SA 4.0)
4 Comments
Kalimat penutupnya bikin saya tersenyum getir….
Kok tersenyum getir, Lik Jun?
🙏
Itu saya banget, yan isi blognya melulu tentang saya sendiri.🙈
Ah masa