• Lama baca: < 1 menit →

Orang kota besar dengan rumah kecil tak perlu ruang tamu

Mewarisi rumah tinggalan orangtua, yang selesai dikontrak orang, Bungin menanya soal desain renovasi rumah. “Tanya arsitek saja,” jawab Kamso.

Bungin ngèyèl, minta masukan. Kamso bilang, yang penting cahaya alami memadai, sirkulasi udara bagus, untuk rumah di atas lahan 102 meter persegi pakailah perabot kompak, bila perlu hasil kustomisasi. Klise sih.

Kamso sekalian membual, “Nggak usah bikin ruang tamu yang disekat tembok, sayang kalo nggak kepake. Zaman belum pendemi aja orang jarang bertamu. Lebih praktis ketemu di kedai kopi, nggak repot jarak, tol, dan parkir. Motor parkir aja bikin sesak jalan apalagi mobil, ngganggu tetangga.”

Pemuda 30 tahun itu berbinar. Dia jentikkan jempol dan jari tengah sampai bunyi takkk.

“Bener, Oom. Tamu di rumah papa mama cuma orang dekat, ngobrol di ruang keluarga atau meja makan. Lebih penting teras buat nerima tetangga karena pasti sebentar. Bisa ngerokok pula.”

¬ Gambar praolah: Amazon, Unsplash

Pemilik BlogKamso & Kamsiarsitek,arsitektur,desain interior,furnitur,gaya hidup,jalan tol,parkir,perabot,rumah mungilMewarisi rumah tinggalan orangtua, yang selesai dikontrak orang, Bungin menanya soal desain renovasi rumah. 'Tanya arsitek saja,' jawab Kamso. Bungin ngèyèl, minta masukan. Kamso bilang, yang penting cahaya alami memadai, sirkulasi udara bagus, untuk rumah di atas lahan 102 meter persegi pakailah perabot kompak, bila perlu hasil kustomisasi. Klise sih. Kamso...Suatu atau sebuah blog?